“Gagasan di balik trofi ini bermula dari tradisi kuno mengoper cawan perayaan dari tangan ke tangan. Cawan tersebut berfungsi sebagai wadah minum berukuran besar, yang menciptakan nuansa perayaan dan kegembiraan bersama,” bunyi keterangan Vedomazzei, dinukil dari Crash, Rabu (2/9/2026).
“Kami ingin trofi ini menjadi simbol kemenangan yang digenggam oleh seorang individu, namun sekaligus mencerminkan semangat sebuah komunitas. Dalam konteks F1, komunitas ini mencakup tim, para penggemar, dan seluruh dunia yang berada di sekeliling para pembalap,” sambungnya.

“Komposisi ini juga menghadirkan dimensi keseharian melalui gerakan-gerakan yang berulang, menyiratkan sebuah kemenangan yang diraih lap demi lap—kemenangan yang tidak pernah berujung pada status abadi ataupun tak berubah,” lanjut keterangan itu.
“Kemenangan itu tidak stabil, hanya berlangsung sesaat, dan harus direbut kembali. Sesungguhnya, kemenangan itu rapuh,” tandas Vedovamazzei.
(Wikanto Arungbudoyo)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.