Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Selain Dugaan Pelecehan Seksual, FPTI Dapat Laporan soal Praktik Pemotongan Bonus Atlet

Cikal Bintang , Jurnalis-Kamis, 05 Maret 2026 |17:07 WIB
Selain Dugaan Pelecehan Seksual, FPTI Dapat Laporan soal Praktik Pemotongan Bonus Atlet
Ketua Umum FPTI, Yenny Wahid, mengaku ada informasi lain mengenai kondisi di Pelatnas Panjat Tebing Indonesia (Foto: Okezone/Cikal Bintang)
A
A
A

JAKARTA – Ketua Umum FPTI, Yenny Wahid, mengaku ada informasi lain mengenai kondisi di Pelatnas Panjat Tebing Indonesia. Selain kasus pelecehan seksual, ternyata juga ada praktik pemotongan bonus!

Pelatnas panjat tebing Indonesia digegerkan dengan kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang dilakukan oleh pelatih kepada atlet. Segera setelah mendapat laporan, FPTI memecat pelaku serta mendampingi atlet membawa kasus ke polisi.

1. Zero Tolerance

Pelatnas Panjat Tebing jelang SEA Games 2025 (Foto: Okezone/Cikal Bintang)

Yenny menegaskan federasi menerapkan kebijakan zero tolerance terhadap dugaan kekerasan seksual di lingkungan pemusatan latihan nasional (pelatnas). Ia juga menyatakan FPTI mendukung penuh proses hukum setelah sejumlah atlet melaporkan kasus tersebut ke kepolisian.

Kasus yang menyeret seorang pelatih di lingkungan FPTI tidak hanya berkaitan dengan dugaan pelecehan seksual. Perkara itu juga memunculkan dugaan praktik pemotongan bonus atlet hingga mencapai 50 persen.

Yenny menyatakan federasi memberikan pendampingan hukum penuh kepada para korban. Selain menonaktifkan pelaku, FPTI juga menyiapkan sistem safeguarding untuk memastikan keamanan serta martabat atlet tetap terlindungi.

"Beberapa atlet kami kemarin memutuskan untuk membuat pelaporan ke polisi. Atletnya yang lapor karena FPTI tidak bisa melapor (karena bukan korban langsung). Atlet membuat pelaporan, nanti akan dijelaskan secara lebih lengkap oleh pengacara pendamping dari para atlet," ujar Yenny dikutip dari keterangan resminya, Kamis (5/3/2026).

Sejauh ini tercatat lima orang telah melapor secara resmi kepada polisi terkait kasus tersebut. Namun Yenny mengungkapkan jumlah atlet yang menyampaikan pengaduan secara pribadi kepadanya sebenarnya lebih banyak.

Perempuan berusia 51 tahun itu menjelaskan bentuk kekerasan yang diduga terjadi tidak hanya fisik, tetapi juga verbal dan seksual. Dugaan tindakan tersebut disebut menimbulkan trauma bagi para atlet, baik putra mau pun putri.

Yenny memilih tidak mengungkap secara rinci batasan tindakan pelecehan yang dilaporkan. Ia menegaskan setiap tindakan tanpa persetujuan yang membuat seseorang merasa tidak aman sudah masuk kategori pelecehan.

2. Praktik Pemotongan Bonus

Selain dugaan kekerasan, muncul pula informasi mengenai praktik pemotongan bonus atlet hingga 50 persen. Yenny mengaku terkejut saat pertama kali mendengar kabar tersebut.

"Saya juga kaget sekali begitu mendengar ada pemotongan bonus 50 persen. Saya kaget sekali. Dan itu juga dilakukan oleh terduga pelaku,” beber Yenny.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Sport lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement