Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Erick Thohir Tegaskan Target 4 Medali Emas untuk Indonesia di Asian Games 2026

Niko Prayoga , Jurnalis-Sabtu, 01 Agustus 2026 |09:23 WIB
Erick Thohir Tegaskan Target 4 Medali Emas untuk Indonesia di Asian Games 2026
Erick Thohir menegaskan target empat medali emas untuk Indonesia di Asian Games 2026 sudah realistis (Foto: Okezone/Niko Prayoga)
A
A
A

JAKARTA – Menpora RI, Erick Thohir, kembali menegaskan target paling realistis bagi Kontingen Indonesia di Asian Games 2026 adalah empat medali emas. Jumlahnya memang menyusut dari proyeksi tujuh keping karena dinamika serta efisiensi anggaran.

Erick menjelaskan penyesuaian target ini dipengaruhi oleh faktor teknis dan finansial yang saling berkaitan. Dari tujuh capaian emas pada edisi sebelumnya, tiga nomor di antaranya dipastikan tidak lagi dipertandingkan pada Asian Games 2026 Aichi-Nagoya di Jepang.

“Saya sudah sampaikan target realistis kami saat ini adalah empat medali emas, bukan tujuh. Dari tujuh emas sebelumnya memang ada tiga nomor yang kini tidak dipertandingkan," ungkap Erick di Kantor Kemenpora RI, Jakarta, Jumat 31 Juli 2026.

1. Fokus pada Atlet

Closing Ceremony Asian Games 2023. reuters

Mengenai cabang olahraga (cabor) yang diproyeksikan menjadi penyumbang emas, ia menyebut bulu tangkis sebagai sektor andalan. Tapi, tidak menutup kemungkinan sumbangsih datang dari nomor lain.

“Kalau bisa bulu tangkis juga menyumbang emas, tentu semua kami harapkan memberikan medali," tegas Erick.

Di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, Kemenpora menerapkan strategi fokus pada atlet kategori utama atau prioritas guna menjaga peluang medali tetap maksimal. Meski demikian, Erick menyoroti pentingnya keberlanjutan pembinaan bagi atlet lapis kedua atau "menuju prioritas" agar regenerasi tidak terputus.

"Dengan kondisi efisiensi anggaran saat ini, kami benar-benar memprioritaskan atlet yang sudah masuk kategori utama. Padahal dalam olahraga ada atlet prioritas dan atlet menuju prioritas,” terang Erick.

“Atlet menuju prioritas tidak boleh berhenti dibina karena nantinya atlet prioritas akan pensiun. Itulah mengapa saya mengusulkan anggaran Pelatnas bersifat multiyears agar persiapan menuju Olimpiade 2032 bisa dilakukan sejak sekarang," tegas pria yang juga Ketua Umum PSSI itu.

2. Alokasi Anggaran Menurun

Menjelaskan kondisi finansial Kemenpora, Erick mengungkapkan alokasi anggaran 2026 mengalami penurunan signifikan dibandingkan histori satu dekade terakhir. Dari total porsi yang ada, sebagian juga sempat diblokir, termasuk dana perjalanan dinas yang krusial bagi mobilitas atlet dan pelatih.

“Selama sekira 10 tahun, rata-rata anggaran Kemenpora mencapai Rp2,6 triliun. Tahun ini anggaran yang diberikan sekitar Rp1,15 triliun, bahkan lebih rendah dibanding masa pandemi yang mencapai Rp1,2 triliun,” aku Erick.

“Dari Rp1,15 triliun itu masih ada sekira Rp270 miliar yang diblokir. Salah satunya untuk perjalanan dinas. Tapi saya sudah sampaikan perjalanan dinas tersebut bukan untuk saya, melainkan untuk atlet dan pelatih," papar mantan Presiden Inter Milan itu.

 

Erick menambahkan, pengelolaan anggaran Pelatnas saat ini dilakukan secara terperinci. Di mana, kuota dan identitas atlet dibiayai per individu sesuai kriteria prioritas. Pemerintah saat ini menantikan pencairan dana tambahan untuk pembinaan atlet muda, persiapan SEA Games, dan Olimpiade.

"Presiden (Prabowo Subianto) sudah meminta hal tersebut. Alhamdulillah, Menteri Keuangan melalui jajaran Direktorat Jenderal menyampaikan dalam 1-2 minggu ke depan mudah-mudahan ada kabar baik," lanjut Erick.

3. Swasta

CdM kunjungi pelatnas Triahthlon Indonesia jelang Asian Games 2026 NOC Indonesia

Sementara itu, terkait kesiapan keorganisasian, pihaknya terus bersinergi dengan Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), serta Chief de Mission (CdM) Asian Games 2026, Todotua Pasaribu, yang telah melakukan peninjauan ke lapangan.

Adapun mengenai peranan sektor swasta, Erick menegaskan sponsor memiliki ruang yang luas pada penyelenggaraan kejuaraan nasional maupun internasional. Namun untuk Pelatnas, karena terikat regulasi keuangan negara, keterlibatan difokuskan pada dukungan sarana dan peralatan olahraga.

“Untuk kejuaraan nasional, Asia, atau dunia, sponsorship lebih fleksibel. Tetapi untuk Pelatnas, karena menggunakan anggaran pemerintah, pengaturannya lebih kompleks. Sponsor masih bisa membantu dari sisi peralatan olahraga," pungkas Erick.

(Wikanto Arungbudoyo)

Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Sport lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement