KISAH Tony Gunawan, satu-satunya pebulu tangkis yang juara BWF World Championships bersama 2 negara berbeda akan diulas Okezone. Bagi Anda pencinta bulu tangkis sejak 1990-an, tentu tak asing dengan sosok Tony Gunawan.
Pebulu tangkis kelahiran Surabaya, Jawa Timur ini sempat menjadi andalan Indonesia di nomor ganda putra. Berkat bantuan Tony Gunawan, Indonesia mememangkan medali emas Asian Games 1998 (nomor beregu putra) dan trofi Piala Thomas 1998 dan 2000.

Tahun 2000 dan 2001 bisa dibilang tahun keemasan Tony Gunawan sebagai pebulu tangkis. Di tahun tersebut, Tony Gunawan memenangkan medali emas Olimpiade Sydney 2000 dan BWF World Championships 2001!
Di Olimpiade Sydney 2000, Tony Gunawan berpasangan dengan Candra Wijaya. Bertemu pasangan Korea Selatan Lee Dong-soo/Yo Yoong-sung di partai puncak, Tony Gunawan/Candra Wijaya menang 15-10, 9-15 dan 15-7!
Setelah itu, Tony Gunawan berpasangan dengan mantan duetnya, Halim Haryanto. Mentas di BWF World Championships 2001, mereka keluar sebagai juara setelah menang 15-0 dan 15-3 atas pasangan Korea Selatan, Ha Tae-kwon/Kim Dong-moon.
Pada 2002, Tony Gunawan berpindah paspor dari Indonesia ke Amerika Serikat, ketika usianya masih 27 tahun. Ada sejumlah alasan kenapa Tony Gunawan meninggalkan paspor Indonesia di usia yang masih kompetitif.
Ia melihat persaingan ganda putra di Indonesia sangat ketat dan mencoba memberikan ruang regenerasi bagi pemain muda. Di saat bersamaan, ada tawaran masuk dari Amerika Serikat. Di Amerika Serikat, Tony Gunawan mendapat dua pekerjaan sekaligus, yakni sebagai pemain sekaligus pelatih.

Setelah menetap di Amerika Serikat, prestasi Tony Gunawan di dunia tepok bulu juga tidak menurun. Berpasangan dengan pebulu tangkis Amerika Serikat Hoaward Bach, Tony Gunawan merebut gelar juara dunia atau BWF World Championships 2005 nomor ganda putra.
Di partai puncak, ganda putra Amerika Serikat mengalahkan jagoan Indonesia, Candra Wijaya/Sigit Budiarto dengan skor 15-11, 10-15 dan 15-11. Sampai saat ini, belum ada pebulu tangkis yang menjadi juara dunia bersama dua negara berbeda.
(Ramdani Bur)