AJANG balap mobil paling bergengsi di dunia, Formula 1 (F1), dipastikan akan menyapa kembali benua Afrika setelah absen sejak tahun 1993. Kepastian ini didapat setelah F1 menjalin kesepakatan jangka panjang berdurasi 10 tahun untuk menggelar F1 GP Afrika di Rwanda.
Melalui pernyataan resminya, pihak F1 mengonfirmasi balapan jet darat ini akan dihelat di sirkuit baru yang berlokasi di Bugesera, Rwanda. Kawasan tersebut berjarak sekitar 40 kilometer di sebelah selatan ibu kota Rwanda, Kigali.
Pembangunan sirkuit baru ini diperkirakan rampung pada awal dekade 2030-an. Penyelenggaraan balapan secara perdana akan langsung dilaksanakan begitu seluruh fasilitas lintasan siap digunakan.
Sirkuit di Bugesera dirancang khusus agar dapat menyatu harmonis dengan kontur alam sekitarnya. Pemanfaatan perbedaan ketinggian lahan di area tersebut diharapkan mampu menyajikan pengalaman balap yang menantang sekaligus memanjakan pandangan para penonton.
Kembali digelarnya balapan di tanah Afrika sebenarnya telah menjadi ambisi lama yang terus diperjuangkan F1. Kehadiran Rwanda di kalender balap menjadi tonggak sejarah penting untuk mewujudkan ajang kejuaraan dunia yang benar-benar inklusif.
"Hari ini adalah momen bersejarah bagi Formula 1. Dengan bergabungnya Rwanda mulai dekade mendatang, olahraga kami akan berlaga di setiap benua yang dihuni manusia," ujar Presiden F1, Stefano Domenicali, dikutip dari New Straits Times, Rabu (14/10/2026).
Presiden Rwanda, Paul Kagame, turut menyampaikan rasa bangganya atas penunjukan negaranya. Ia berharap ajang ini dapat menjadi inspirasi besar bagi generasi muda di seluruh penjuru benua Afrika.