SIAPA yang tak kenal Lin Dan? Ya, salah satu legenda bulu tangkis dunia dan masuk The Big Four Kings ganda putra ini punya tempat di hati penggemar bulu tangkis.
Peraih dua medali emas Olimpiade, lima gelar juara dunia, dan ratusan trofi bergengsi menjadikannya salah satu atlet terbesar yang pernah ada.
Namun di balik semua gemerlap prestasi itu, ada sisi lain Lin Dan yang jarang diketahui publik: ia adalah seorang prajurit militer berpangkat tinggi di Tentara Pembebasan Rakyat China (People's Liberation Army/PLA).
Lin Dan lahir di Longyan, Provinsi Fujian, China, pada 14 Oktober 1983. Bakat luar biasanya di lapangan bulu tangkis terdeteksi sejak dini, dan pada usia 12 tahun ia sudah bergabung dengan Bayi Badminton Club, sebuah klub elite yang bernaung di bawah Tentara Pembebasan Rakyat China.
Bergabung dengan klub militer bukan perkara mudah. Lin Dan harus tunduk pada berbagai aturan ketat yang diberlakukan institusi kemiliteran, mulai dari larangan menerima kontrak sponsor secara mandiri hingga pembatasan aktivitas komersial lainnya.
Bagi pemain sebesar Lin Dan, aturan-aturan ini kerap berbenturan dengan popularitasnya yang meledak di dunia olahraga.
Lin Dan dikenal bukan hanya karena kehebatannya di lapangan, tetapi juga karena reputasinya sebagai sosok yang bandel dan tengil. Ia kerap melanggar regulasi Bayi Badminton Club, di antaranya dengan menerima tawaran sponsor tanpa seizin institusi militer dan memiliki tato, sesuatu yang bertentangan dengan citra seorang prajurit.
Namun justru sisi "pemberontak" inilah yang membuat Lin Dan terasa manusiawi dan dekat dengan penggemar setianya.
Singkat cerita, ia akhirnya meraih pangkat Letnan Kolonel di Tentara Pembebasan Rakyat China, sebuah pencapaian yang tidak main-main di institusi kemiliteran terbesar di dunia.