PANGGUNG Olimpiade Sydney 2000 menyisakan luka paling dalam bagi perjalanan hidup eks ratu bulu tangkis China, Ye Zhaoying. Mantan rival sengit Susy Susanti tersebut kini harus menerima kenyataan pahit diusir dari tanah airnya dan hidup menetap di pengasingan akibat teguh menyuarakan kebenaran.
Bagi generasi yang tumbuh di era 1990-an, sosok Ye Zhaoying dikenal sebagai salah satu pebulu tangkis tunggal putri paling berbahaya di kolong langit. Bersama Susy Susanti dari Indonesia dan Bang Soo-hyun asal Korea Selatan, atlet kelahiran Hangzhou ini menjadi bagian dari trio penguasa takhta tertinggi bulu tangkis dunia.
Sejak menduduki peringkat satu dunia pertama kali pada tahun 1995, Ye sukses menggondol berbagai gelar juara prestisius, termasuk dua mahkota Juara Dunia dan hattrick gelar All England. Sayangnya, kemilau prestasi di atas podium juara tersebut rupanya menyimpan rahasia kelam yang baru terbongkar dua dekade setelahnya.
Tabir gelap dari sistem olahraga China terungkap ke publik setelah Ye melakukan wawancara blak-blakan dengan media asal Denmark, TV 2 Sport. Dalam pengakuannya, ia membeberkan fakta memilukan di balik medali perunggu yang ia bawa pulang dari ajang Olimpiade Sydney 2000.
Ye mengungkapkan bahwa dirinya dipaksa oleh jajaran tim pelatih untuk sengaja mengalah pada pertandingan semifinal melawan rekan senegaranya sendiri, Gong Zhichao. Strategi kotor itu sengaja dijalankan karena Gong dinilai mempunyai peluang lebih besar untuk menjegal wakil Denmark, Camilla Martin, di laga puncak.
Demi mengalah, Ye akhirnya harus rela takluk dua gim langsung dari Gong Zhichao. Ia mengingat momen itu sebagai tekanan mental terbesar dalam hidupnya, sebab jika ia membangkang lalu kalah di final, ia akan langsung dicap sebagai musuh publik oleh seluruh masyarakat China.