Kisah Rachel Robertson, Pembalap Cantik yang Bermimpi Bisa Bersaing di Ajang Formula One

Rivan Nasri Rachman, Jurnalis
Minggu 15 Maret 2026 17:30 WIB
Rachel Robertson bermimpi bisa bersaing di ajang balap Formula One. (Foto: Instagram/rachelrobertsonracing)
Share :

BANYAK yang mengira Rachel Robertson tampak seperti remaja Inggris pada umumnya yang gemar berkumpul bersama teman-temannya. Namun, begitu ia mengenakan baju balap dan duduk di balik kemudi mobil berkekuatan 174 tenaga kuda, Rachel berubah menjadi salah satu penguasa kecepatan.

Remaja berusia 18 tahun ini adalah bagian dari kelompok elit perempuan yang sedang berjuang meruntuhkan tembok tebal bernama tradisi dan biaya dalam olahraga otomotif.

Melalui F1 Academy, sebuah kejuaraan khusus wanita yang diprakarsai oleh Formula 1 (F1) Group, Rachel dan rekan-rekannya membawa misi besar, menjadi wanita pertama dalam 50 tahun terakhir yang mampu menembus kasta tertinggi Formula 1. Perjalanan ini tidak mudah, mengingat sejarah mencatat bahwa Lella Lombardi adalah wanita terakhir yang benar-benar berkompetisi di grid F1 pada tahun 1976 silam.

1. Melawan Stigma

Bagi banyak pembalap wanita, tantangan terbesar bukan hanya soal teknis di lintasan, melainkan sentimen meremehkan dari lingkungan sekitar. Esmee Kosterman, pembalap asal Belanda, mengenang masa kecilnya saat ia lebih memilih sirkuit balap ketimbang menari seperti keinginan ibunya.

Kosterman pun seringkali mendapat ejekan dari pembalap pria yang menyebut bahwa balapan bukanlah olahraga untuk perempuan. Hal serupa dialami Rachel Robertson. Sejak memulai karting di usia 14 tahun, ia kerap dianggap sebagai gangguan oleh lawan pria, bukan pesaing serius.

Rachel Robertson. (Foto: Instagram/rachelrobertsonracing)

Rachel mengungkapkan sebuah realita pahit, jika ia kalah, para pembalap pria akan bersikap ramah, namun jika ia menang dan melewati garis finis lebih dulu, suasana seketika menjadi hening tanpa pengakuan. Padahal, secara teoritis, balapan adalah salah satu dari sedikit olahraga di mana pria dan wanita dapat bersaing secara setara.

"Seringkali dalam pikiran mereka, ‘oh, itu hanya seorang perempuan di depanku, aku akan menyingkirkannya dari lintasan'. Mereka tidak mau mengakui bahwa sebenarnya kamu lebih baik. Jika kamu kalah dari beberapa dari mereka, maka mereka akan berkata, 'Itu bagus'. Tapi jika kamu menang? Mereka tidak akan mengatakan apa pun,” kata Rachel, melansir dari BBC, Minggu (15/3/2026).

 

2. Membangun Ekosistem

Kurangnya keterwakilan wanita di level profesional seringkali disebabkan oleh absennya figur teladan. Alba Larsen, pembalap Denmark yang kini membela tim legendaris Ferrari, mengaku sempat tidak percaya balapan bisa menjadi karier karena ia jarang melihat wanita di televisi.

Statistik memang menunjukkan ketimpangan yang nyata: hanya 10% dari total pembalap di dunia adalah wanita. Angka ini menyusut drastis menjadi hanya 7% ketika memasuki kategori balap yang lebih tinggi.

Rachel Robertson. (Foto: Instagram/rachelrobertsonracing)

F1 Academy hadir untuk memutus rantai tersebut. Layaknya program pascasarjana, akademi ini memberikan dukungan institusional yang selama ini sulit diakses perempuan, mulai dari pendanaan, pelatihan intensif, hingga waktu uji coba di lintasan.

Para pembalap memiliki 14 balapan dalam tujuh putaran untuk membuktikan diri. Sang juara nantinya akan mendapatkan kursi balap yang didanai penuh. Namun, tantangannya tetap besar; mereka rata-rata hanya memiliki waktu dua tahun untuk membuktikan bakat mereka sebelum harus bertarung secara mandiri di dunia balap yang sangat kompetitif.

(Rivan Nasri Rachman)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Sports lainnya