BANYAK yang mengira Rachel Robertson tampak seperti remaja Inggris pada umumnya yang gemar berkumpul bersama teman-temannya. Namun, begitu ia mengenakan baju balap dan duduk di balik kemudi mobil berkekuatan 174 tenaga kuda, Rachel berubah menjadi salah satu penguasa kecepatan.
Remaja berusia 18 tahun ini adalah bagian dari kelompok elit perempuan yang sedang berjuang meruntuhkan tembok tebal bernama tradisi dan biaya dalam olahraga otomotif.
Melalui F1 Academy, sebuah kejuaraan khusus wanita yang diprakarsai oleh Formula 1 (F1) Group, Rachel dan rekan-rekannya membawa misi besar, menjadi wanita pertama dalam 50 tahun terakhir yang mampu menembus kasta tertinggi Formula 1. Perjalanan ini tidak mudah, mengingat sejarah mencatat bahwa Lella Lombardi adalah wanita terakhir yang benar-benar berkompetisi di grid F1 pada tahun 1976 silam.
Bagi banyak pembalap wanita, tantangan terbesar bukan hanya soal teknis di lintasan, melainkan sentimen meremehkan dari lingkungan sekitar. Esmee Kosterman, pembalap asal Belanda, mengenang masa kecilnya saat ia lebih memilih sirkuit balap ketimbang menari seperti keinginan ibunya.
Kosterman pun seringkali mendapat ejekan dari pembalap pria yang menyebut bahwa balapan bukanlah olahraga untuk perempuan. Hal serupa dialami Rachel Robertson. Sejak memulai karting di usia 14 tahun, ia kerap dianggap sebagai gangguan oleh lawan pria, bukan pesaing serius.
Rachel mengungkapkan sebuah realita pahit, jika ia kalah, para pembalap pria akan bersikap ramah, namun jika ia menang dan melewati garis finis lebih dulu, suasana seketika menjadi hening tanpa pengakuan. Padahal, secara teoritis, balapan adalah salah satu dari sedikit olahraga di mana pria dan wanita dapat bersaing secara setara.
"Seringkali dalam pikiran mereka, ‘oh, itu hanya seorang perempuan di depanku, aku akan menyingkirkannya dari lintasan'. Mereka tidak mau mengakui bahwa sebenarnya kamu lebih baik. Jika kamu kalah dari beberapa dari mereka, maka mereka akan berkata, 'Itu bagus'. Tapi jika kamu menang? Mereka tidak akan mengatakan apa pun,” kata Rachel, melansir dari BBC, Minggu (15/3/2026).