SEBANYAK 3 pebulu tangkis putri Indonesia yang pernah meraih medali emas Olimpiade ternyata tak merasakan hal yang sama ketika berbicara turnamen Asian Games. Salah satunya adalah legenda tunggal putri Indonesia, yakni Susy Susanti.
Ya, ada banyak legenda-legenda besar yang mendominasi berbagai kejuaraan bergengsi. Akan tetapi, ada kalanya jalan terjal justru tersaji di ajang multievent regional seperti Asian Games, di mana gelar juara tertinggi kerap luput dari genggaman para peraih medali emas Olimpiade. Penasaran siapa saja?
Sebagai ikon tunggal putri dunia dan peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992, Susy Susanti memiliki sejarah karier yang luar biasa gemilang dengan koleksi gelar All England, Kejuaraan Dunia, hingga Piala Uber. Namun di balik dominasinya yang luar biasa, ajang Asian Games justru menjadi tembok tebal yang belum pernah bisa ia robohkan.
Prestasi terbaik legenda yang dijuluki Ratu Bulu Tangkis Dunia ini di panggung Asian Games hanya sebatas medali perak nomor beregu serta medali perunggu di sektor perorangan.
Nama Liliyana Natsir bersanding abadi sebagai salah satu pebulu tangkis tersukses Indonesia dengan koleksi empat gelar juara dunia (2005, 2007, 2013, 2017) serta medali emas Olimpiade Rio 2016 bersama Tontowi Ahmad. Kendati lemari trofinya penuh dengan gelar elite, medali emas Asian Games menjadi satu-satunya pencapaian yang gagal ia taklukkan.
Dalam dua kesempatan final yang diikutinya, yakni pada Asian Games 2014 Incheon dan Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, langkahnya bersama Tontowi harus puas terhenti dan hanya mendulang medali perak serta perunggu.