MARC Marquez mengungkap ada perbedaan antara pembalap yang sekadar kencang dengan yang punya mental juara dunia. Faktor itulah yang membuatnya bisa mengoleksi tujuh titel.
Marquez sukses menjadi juara dunia pada MotoGP 2025. Itu merupakan gelar ketujuhnya di kelas premier atau yang kesembilan di semua kelas (Moto3 dan Moto2).

Statistik pria asal Spanyol itu juga cukup menyeramkan. Marquez mencatatkan 73 kemenangan, 126 podium, dan 74 pole position dalam 208 kali start sejak 2013.
Tentu saja, hal itu tidak akan dicapai bila Marquez tidak memiliki bakat luar biasa. Namun, menurutnya, talenta dan kecepatan saja tidak cukup untuk bisa meraih gelar juara dunia!
“Semua pembalap di grid itu cepat. Kami semua tahu bagaimana caranya mengendarai motor, dari Moto3 ke MotoGP,” papar Marquez, mengutip dari Crash, Minggu (8/3/2026).
“Tapi kemudian, ada (keharusan untuk) mengatur (dalam) momen-momen tertekan, ketidakpastian, dan manajemen ban,” imbuh pria berpaspor Spanyol itu.

Lebih lanjut, Marquez menuturkan, jadi juara dunia tidak cukup hanya kencang dan bertalenta. Untuk mencapai status bergengsi itu, pembalap harus bisa mengatasi situasi-situasi berbeda dalam satu musim.
“Ini bukan hanya sekadar membalap dengan cepat. Ini soal mengatasi situasi-situasi yang menghampiri Anda dalam 22 balapan di satu musim. Itulah bedanya seorang juara dunia dan pembalap yang sekadar cepat,” urai Marquez.
“Di tes, semua orang (melaju) kencang. Lalu, di akhir pekan balapan, semuanya jadi lebih sulit,” tandas pria berusia 33 tahun tersebut.
Saat ini, Marquez dan kolega tengah menjalani jeda cukup panjang. Sebab, seri kedua yang bertajuk MotoGP Brasil 2026 itu dihelat di Sirkuit Autodromo Internacional Ayrton Senna, Goiana, Brasil, pada 21-23 Maret.
(Wikanto Arungbudoyo)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.