DUNIA bulu tangkis tidak hanya bicara soal rivalitas panas di atas lapangan, tetapi juga tentang rasa hormat yang mendalam antar atlet. Salah satu cerita yang paling menyentuh adalah bagaimana pasangan ganda putra legendaris Indonesia, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, menjadi kiblat inspirasi bagi ganda putra andalan Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik.
Bagi pasangan Negeri Jiran tersebut, The Daddies bukan sekadar lawan, melainkan sosok guru yang menunjukkan bahwa usia hanyalah angka.
Sejak pertama kali dipasangkan pada tahun 2012, Ahsan dan Hendra telah membangun reputasi sebagai salah satu ganda putra paling mematikan di dunia. Berbagai gelar bergengsi mulai dari level Super Series hingga tiga kali juara dunia telah mereka rengkuh.
Namun, bukan hanya deretan trofi yang membuat Aaron/Soh terpukau, melainkan kemampuan The Daddies untuk tetap bersaing di level tertinggi meski sudah memasuki usia senja sebagai atlet profesional.
Kekaguman Aaron Chia berakar pada konsistensi luar biasa yang ditunjukkan oleh pasangan Indonesia tersebut. Menurutnya, mempertahankan performa di tengah gempuran pemain-pemain muda yang lebih bertenaga bukanlah perkara mudah. Hal inilah yang ingin ia contoh demi mengejar lebih banyak prestasi bagi Malaysia di masa depan.
“Kami menghormati mereka (Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan) di nomor ganda karena mereka paling senior. Meski sudah lama bermain, mereka tetap mampu tampil konsisten. Itu adalah hal terpenting bagi kami untuk memenangi lebih banyak gelar lagi," ungkap Aaron Chia dalam sebuah wawancara pada tahun 2022.