Namun, siapa yang menyangka pada akhirnya Tari pulang ke Tanah Air dan menemui Syabda dalam suasana serbahitam. Pemain berusia 24 tahun itu pun teringat kembali, ketika terakhir kali ia bertemu secara tatap muka dengan mendiang adalah diantar ke bandara untuk berangkat ke Inggris.
Pada momen itu, Syabda begitu ngotot untuk mengantar Tari. Padahal, Syabda sendiri sedang dalam kondisi lelah usai berlatih keras.

“Sebelum dia meninggal, aku bersyukur dia nganterin aku ke bandara (sebelum berangkat ke All England), itu pertemuan terakhir tatap muka kita di bandara. Jadi sebelum berangkat dia bilang, ‘Sudah aku saja yang anterin,’ padahal aku bilang udah enggak usah karena tahu dia latihan hari itu capek banget, paginya sesi lari, sorenya latihan teknik. Tapi, dia bilang enggak, dia mau nganterin,” tutur Tari.
“Terus waktu itu sebetulnya pas dateng ke bandara kita datangnya itu memang enggak telat, tapi aku sudah dicariin. Jadi semua itu sudah datang, tapi ada beberapa orang yang belum datang termasuk aku. Tapi dia bilang, ‘Sudah enggak usah khawatir kamu enggak akan ditinggal pesawat.’ Itu dia enggak pernah kayak gitu. Ya, mungkin kita biar lebih lama (di pertemuan terakhir), tapi itu kan aku enggak tahu,” lanjutnya.
Pertanda lain pun banyak dirasakan Tari ketika mengingat kembali sikap dan kebiasaan Syabda setahun ke belakang. Begitu juga dengan kepergian ibunda Syabda yang juga ikut terlibat dalam kecelakaan itu. Sebelum kepergian itu, Tari juga sempat membelikan baju berwarna ungu untuk ibunda Syabda dan melakukan video call yang cukup lama.
Sebagai manusia, Tari tentu tidak bisa mengubah takdir. Ia selalu mengingat pesan sang Ayah bahwa dengan adanya Syabda ataupun tidak, hidup harus terus berjalan. Memang butuh perjuangan berat bagi Tari untuk menerima kepergian Syabda, termasuk ketika ia memiliki banyak kenangan bersama dengan mendiang di ruang makan asrama.
“Aku butuh waktu cukup lama untuk bisa makan di ruang makan asrama. Jadi kalau makan, aku minta tolong diantar ke kamar karena masih belum siap. Aku sama Syabda punya momen di mana kita mau makan, kita dibikinin jadi satu paket sama koki, khusus untuk Syabda dan Mentari. Jadi kita kalau makan, makannya bareng dan ada memori setiap makan itu. Jadi, kalau ke kantin cuma lewat doang,” terang Tari.