Kesakitan itu semakin menjadi-jadi saat Hariyanto/Marleve menghadapi ganda Taiwan Huang Chuan-chen/Wu Chang-jun pada perempat final Kejuaraan Dunia Senior 2023 kali ini. Saat itu, setelah pertandingan, Hariyanto juga mengalami rasa nyeri pada lutut kanannya. Bahkan dia mengaku lututnya tidak bisa ditekuk karena bengkak.
Tetapi Hariyanto mengaku tidak menyerah dan terus melaju. Pada akhirnya, di final, Hariyanto/Marleve mengandaskan ganda Thailand Chatchai Boonmee/Wittaya Panomchai dalam straight game 21-19 dan 21-16.
"Sebenarnya mau menyerah, tetapi saya coba dulu. Kalau dilihat dari lawan-lawannya sih, harusnya bisa," ujar legenda berusia 51 tahun itu.
"Persiapan fisik sebenarnya tidak maksimal karena karena sakit ini. Untunglah partnernya sudah tahu kondisi saya dan bagaimana cara main saya. Kami sempat main dua kali dan sudah dikomunikasikan bagaimana strategi bermainnya," imbuhnya.
Bagi Arbi, ini adalah emas ketiganya pada Kejuaraan Dunia Senior BWF. Sebelumnya dia meraih emas pada edisi 2013 di Ankara, Turki (ganda putra 35 tahun plus) dan edisi 2015 di Helsingborg, Swedia(ganda putra 40 tahun plus). Ketika itu, Hariyanto berpasangan dengan Tri Kusharjanto.
Sedangkan Marleve mengaku bersyukur bisa meraih dua emas di Kejuaraan Dunia Senior BWF 2023. Bagi anggota skuad Indonesia yang menjadi juara Piala Thomas 1998, 2000, dan 2002 tersebut dua emas ini sudah sesuai dengan targetnya.