Satu tahun setelah itu, tepatnya pada 2008 tampaknya menjadi yang paling dikenang bagi Sony selain Olimpiade Athena 2004. Saat itu, Sony berhasil merengkuh berbagai gelar, mulai dari juara Indonesia Super Series 2008, Jepang Open Super Series 2008, China Masters Super Series 2008, dan masuk ke perempatfinal Olimpiade Beijing 2008.
Namun, langkah Sony Dwi Kuncoro di Olimpiade 2008 terhenti. Dia kalah dari wakil Malaysia, Lee Chong Wei, dalam dua gim.

Sejak itu, karier Sony di dunia bulu tangkis terus menanjak. Berbagai torehan berhasil dicatatkannya dengan manis. Berbagai gelar berhasil diraihnya dalam kurun waktu 2009 hingga 2018.
Keberhasilan yang diraih Sony tak lepas dari peran orangtuanya, terutama sang ayah bernama Sumadji. Sebab, sang ayahlah yang memperkenalkannya dengan olahraga bulu tangkis.
Sumadji telah menanamkan semangat kepada Sony kecil agar menjadi atlet bulu tangkis hebat. Bahkan di usia 12 tahun, Sony terpaksa tidak meneruskan pendidikannya.
Sony rela meninggalkan bangku sekolah SMP demi menekuni bulu tangkis. Sony di masa remaja bergabung dengan klub bulu tangkis Suryanaga di Surabaya. Klub yang berdiri sejak 1949 ini memang terkenal menghasilkan banyak atlet legendaris.
(Djanti Virantika)