KISAH sedih Sony Dwi Kuncoro sempat mencuri perhatian publik. Tepatnya, hal itu terjadi ketika Sony datang ke Pelatnas PBSI pada 2003 tanpa ditemani kedua orangtuanya karena tidak punya biaya untuk transportasi.
Meski begitu, Sony Dwi Kuncoro tidak patah semangat. Dia yakin bahwa suatu saat, kedua orangtuanya pasti akan datang ke Jakarta untuk menyaksikan dirinya menjadi juara.

Pada 2004, pria kelahiran 1984 itu tampil dalam Olimpiade Athena di Yunani. Sony Dwi Kuncoro bahkan berhasil membawa pulang medali perunggu.
Sejak saat itu, karier Sony terus bersinar sebagai atlet tunggal putra andalan Indonesia. Dia berhasil memboyong sejumlah prestasi di tingkat internasional.
Prestasinya terus terukir. Tepat pada 2005, Sony berhasil menginjakkan kaki di semifinal Djarum Open 2005. Sayang, dia tidak berhasil meraih gelar.
Belum lama menikmati kariernya, Sony mendapat ujian berat. Berbagai cedera kerap menghampiri Sony dan membuatnya harus absen di Indonesia Open 2006 yang digelar di tanah kelahirannya, yakni Kertajaya, Surabaya.
Sony baru kembali menunjukkan taringnya pada 2007, di mana berhasil merengkuh gelar Chinese Taipei Open 2007. Saat itu, Sony mengalahkan Taufik Hidayat dalam tiga gim.
Satu tahun setelah itu, tepatnya pada 2008 tampaknya menjadi yang paling dikenang bagi Sony selain Olimpiade Athena 2004. Saat itu, Sony berhasil merengkuh berbagai gelar, mulai dari juara Indonesia Super Series 2008, Jepang Open Super Series 2008, China Masters Super Series 2008, dan masuk ke perempatfinal Olimpiade Beijing 2008.
Namun, langkah Sony Dwi Kuncoro di Olimpiade 2008 terhenti. Dia kalah dari wakil Malaysia, Lee Chong Wei, dalam dua gim.

Sejak itu, karier Sony di dunia bulu tangkis terus menanjak. Berbagai torehan berhasil dicatatkannya dengan manis. Berbagai gelar berhasil diraihnya dalam kurun waktu 2009 hingga 2018.
Keberhasilan yang diraih Sony tak lepas dari peran orangtuanya, terutama sang ayah bernama Sumadji. Sebab, sang ayahlah yang memperkenalkannya dengan olahraga bulu tangkis.
Sumadji telah menanamkan semangat kepada Sony kecil agar menjadi atlet bulu tangkis hebat. Bahkan di usia 12 tahun, Sony terpaksa tidak meneruskan pendidikannya.
Sony rela meninggalkan bangku sekolah SMP demi menekuni bulu tangkis. Sony di masa remaja bergabung dengan klub bulu tangkis Suryanaga di Surabaya. Klub yang berdiri sejak 1949 ini memang terkenal menghasilkan banyak atlet legendaris.
(Djanti Virantika)