Pensiunan Atlet Indonesia: Berjaya dan Kemudian Terlupakan

Rivan Nasri Rachman, Jurnalis · Rabu 07 Juli 2021 19:58 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 07 43 2437124 pensiunan-atlet-indonesia-berjaya-dan-kemudian-terlupakan-rKkUfaeE2v.jpg Susy Susanti saat merebut medali emas Olimpiade Barcelona 1992. (Foto: REUTERS)

Sejak saat itu, bulu tangkis dan angkat besi menjadi cabang andalan untuk meraup medali di event tahunan dunia. Di setiap perhelatan, dua cabang ini tak pernah absen menyumbangkan medali. Setidaknya tradisi ini bisa terus dipertahankan hingga Olimpiade 2016 Rio de Janeiro.

Tontowi Ahmad

(Owi/Butet rebut medali emas Olimpiade 2016)

Namun, kebanggaan seorang atlet terhadap prestasi seringkali tidak bertahan lama. Faktor usia sering menjadi penghambat utama dan melengserkan kejayaan mereka sebagai atlet.

Sayangnya, ketika seorang atlet memutuskan mengakhiri karier, sosoknya sering terlupakan. Bagai kacang lupa kulitnya, orang-orang yang pernah mengelukan nama mereka saat berprestasi, justru sudah tak mengingatnya lagi.

Lalu, bagaimana nasib mereka setelah tak lagi menjadi atlet? Walau terkadang kesuksesan itu masih berlanjut karena memanfaatkan investasi jangka panjang, tetapi ada pula yang tidak. Belum lagi, masa pandemi ini membuat banyak orang harus bekerja ekstra keras untuk bertahan hidup.

Soal kebugaran tubuh, apakah kondisi mereka terjamin 100 persen ketika sudah tak lagi menjadi atlet? Jika pada masa jayanya mereka selalu menggenjot ketahanan tubuh, maka semuanya akan mengendur setelah pensiun.

Inilah dilema yang dirasakan seorang atlet. Rasa bangga dan puja-puji saat berprestasi membuat mereka bersukacita. Namun, tak jarang setelah pensiun kebanggaan itu sirna.

(Ram)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini