Harapan dan Target Marcus Gideon Usai Asian Games 2018

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Rabu 05 September 2018 09:15 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 09 05 601 1946174 harapan-dan-target-marcus-gideon-usai-asian-games-2018-GDweiSrHTz.jpg Marcus/Kevin (Foto: PBSI)

JAKARTA - Walaupun diguyur bonus atas prestasinya di Asian Games 2018, pemain ganda putra bulu tangkis terbaik dunia yang dimiliki Indonesia, Marcus Fernaldi Gideon, tidak mau menggantungkan masa depannya kepada pemerintah.

Dikerubuti anak-anak, juga pria setengah baya dan kaum perempuan yang meminta foto bareng dan tanda tangan, pria kelahiran 1991 itu melayaninya dengan sabar dan berusaha tetap memelihara senyum.

Marcus memang sedang tenar setelah meraih medali emas bersama pasangan gandanya, Kevin Sanjaya Sukamuljo di Asian Games 2018 yang baru saja berakhir. Pada Senin  3 September 2018, Marcus baru saja menerima bonus sebesar Rp600 juta dari pendiri klub PB Jaya Raya dan pengusaha terkenal, Ciputra.

Ini merupakan bonus susulan yang diterimanya setelah menerima bonus sebesar Rp1 miliar dari pemerintah Indonesia, Minggu 2 September 2018 atas raihan medali emas tersebut. Dia juga akan mendapat hadiah rumah. Sebagai warga Jakarta, Gideon pun dijanjikan akan mendapatkan bonus sebesar Rp300 juta dari pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Marcus/Kevin (Foto: Heru Haryono/Okezone)

"Bonusnya cepat banget turunnya. Kita sebagai atlet baru kali ini, setelah pertandingan habis, langsung mendapatkan bonus. Senang banget," kata Gideon, usai menerima bonus dari PB Jaya Raya di GOR PB Jaya Raya, Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (3/9/2018).

"Ini jadi motivasi buat yang kecil-kecil (pemain bulu tangkis usia muda) biar orang tuanya juga percaya dan yakin, kalau anaknya main bulutangkis, masa depannya ada," ujar Sinyo -sapaan akrab Marcus.

"Nggak kayak (pemerintahan sebelumnya) dulu, yang nggak ada hadiahnya, sehingga mana ada orang tua yang anaknya disuruh main bulu tangkis."

Marcus/Kevin (Foto: Heru Haryono/Okezone)

Namun demikian saat ditanya apa yang perlu dilakukan pemerintah Indonesia agar masa depan atlet olah raga yang sudah pensiun dapat terjamin, Gideon kurang sepakat apabila tanggung jawab itu sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah.

"Selama atlet itu masih bisa berjaya, pasti dia akan menabung, sudah menyiapkan untuk masa depannya. Nggak bisa semuanya kemudian minta kepada pemerintah. Kami nggak bisa selalu minta kepada pemerintah. Mereka nggak bisa ngasih (dana atau tunjangan) Anda terus," jelasnya.

Lantas, apa yang akan disiapkannya untuk menghadapi tantangan menjelang Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang? Dan bagaimana dia menekuni dunia bulu tangkis?

Berikut petikan wawancara dengan Marcus:

Apa kata kuncinya sehingga Anda dan Kevin berhasil meraih emas di ganda putra Asian Games 2018?

Yang pasti pantang menyerah dan selalu melakukan hal terbaik.

Apa yang membedakan aksi Anda dalam Asian Games 2018 dengan pertandingan yang Anda lakoni sebelumnya?

Yang membedakan, Asian Games empat tahun sekali, dan ini digelar di Indonesia, sehingga ekspektasi (masyarakat Indonesia) kepada kami pasti sangat besar sekali. Dari situlah, kami ingin juara di sini (Indonesia). Itu yang membedakan dari laga-laga di tempat lain.

Marcus/Kevin vs Li Jun Hui/Liu Yu Chen (Foto: Ramdani Bur/Okezone)

Dua tahun lagi akan digelar Olimpiade 2020 di Jepang. Apa yang perlu Anda tingkatkan agar nanti dapat tampil di ajang olah raga terbesar di dunia itu?

Pasti ada yang perlu ditingkatkan. Banyak. Nanti kita bakal diskusi dengan partner saya (Kevin), bagaimana caranya agar kita bisa lebih baik.

Selama mengikuti berbagai kejuaraan tingkat dunia, siapa lawan yang terberat?

Semua lawan berat. Persaingan di ganda putra di tingkat dunia cukup ramai dan sekarang nggak ada negara yang lemah banget kayak dulu. Sekarang semua sudah bisa main bagus. Jadi kami nggak bisa lengah dan tidak bisa menganggap remeh negara-negara yang kurang terkenal.

Salah-satu yang diharapkan pada Anda dan Kevin, setelah meraih medali emas di ganda putra Asian Games 2018, adalah agar kalian dapat tampil konsisten dalam laga selanjutnya. Apa komentar Anda?

Pasti semua orang mau konsisten. Bisa juara terus, nggak pernah kalah. Siapa yang nggak mau seperti itu. Cuma kami kan sama-sama manusia, pasti ada kekurangan, ada kelemahan. Jadi kami  nggak bisa menjamin pasti menang terus. Tapi pasti kami akan lakukan yang terbaik.

Marcus/Kevin (Foto: Rivan Nasri Rachman/Okezone)

Setelah Anda dan Kevin dielu-elukan masyarakat Indonesia setelah meraih medali emas, Apa ada yang berubah pada diri Anda jika dibanding sebelum Asian Games?

Nggak ada bedanya. Sama saja. Kalau sudah turun (dari laga), besok pertandingan lagi. Sama saja. Dan kami kan tidak langsung main di final. Tetap sama mainnya dimulai babak pertama.

Selama laga tahap awal hingga di final Asian Games 2018, mana pertandingan yang tersulit bagi Anda dan Kevin?

Yang di final, itu pasti. Karena kita sudah ketinggalan banyak angka. Musuhnya (ganda putra Indonesia lainnya: Indonesia Muhammad Rian Ardianto dan Fajar Alfian) juga tampil luar biasa saat itu.

Ada keberuntungan. Dan pasti kita juga nggak menyerah dan kita juga tidak terlalu memikirkann poinnya. Juga saat ketinggalan banget, kita selalu berusaha tampil yang terbaik. Kita mendapatkan satu poin, satu poin.

Jadi menurut Anda bonus ini penting bagi pembinaan bulu tangkis agar anak-anak tertarik menekuninya?

Penting, sebab akan memotivasi agar masyarakat tertarik untuk menekuni bulutangkis. Coba bagaimana rasanya, karena bermain bulu tangkis, sehingga harus rela sekolahnya diganggu. Lalu saat meraih prestasi, nggak mendapat hadiah. Lalu, mau makan apa mereka?

Selain bonus, apa hal penting lainnya yang mesti dilakukan pemerintah agar cabang olah raga bulu tangkis dapat terus menyumbang prestasi?

Kalau bisa pembangunan gedung olah raga seperti di kompleks Gelora Bung Karno (GBK) ada di setiap kota di Indonesia.

Kalau saya ke China, hampir setiap kota, berdiri gedung olah raga yang ukurannya sama seperti Istora Senayan. Dan ukuran yang terkecil itu sebesar Istora. Gedung olah raga di Cina itu gede banget.

Kalau bisa, di setiap kota di Indonesia, enggak cuma di Jakarta, ada gedung olah raga. Jadi, kalau mau main olahraga, nggak perlu susah-susah ke pulau Jawa. Kalau bisa yang di Kalimantan, Papua, Ambon dibangun sarana seperti itu.

Marcus/Kevin (Foto: Rivan Nasri Rachman/Okezone)

Menurut Anda apa yang perlu dilakukan pemerintah Indonesia agar masa depan atlet yang sudah pensiun dapat terjamin?

Menurut saya, jika ada persoalan yang menimpa mantan atlet, itu tidak bisa sepenuhnya digantungkan kepada pemerintah. Selama atlet itu masih berjaya, pasti dia akan menabung, sudah menyiapkan untuk masa depannya. Nggak bisa semuanya kemudian minta kepada pemerintah.

Kami nggak bisa selalu minta kepada pemerintah. Mereka enggak bisa ngasih (dana atau tunjangan) kamu terus. Pasti kami harus kerja, cari sesuatu. Dan saya yakin, kalau kami usaha secara benar dan nggak aneh-aneh, pasti tidak akan susah di masa tuanya. Pasti tetap bisa makan.

Marcus/Kevin (Foto: Rivan Nasri Rachman/Okezone)

Apa kata kunci yang menjadi pegangan Anda sehingga berhasil mendapatkan medali emas di Asian Games, utamanya ketika Anda awal mula menggeluti dunia bulu tangkis?

Selalu melakukan yang terbaik. Nggak usah membandingkan dengan orang lain. Yang penting Kami melakukan yang terbaik sebisa mungkin. Itu yang terpenting buat saya.

Dalam perjalanan hidup Anda, di titik mana Anda akhirnya memutuskan untuk total menggeluti dunia bulu tangkis?

Ya, sedari kecil seperti ini. Soalnya, kalau sudah dari kecil, kita akan fokus ke situ. Kalau berubah-ubah, enggak bagus, pada akhirnya. Saat usia sekolah dasar, saya sudah bermain bulutangkis, dan sudah fokus ke cabang olah raga itu.

Dan agar bisa fokus, peran orang tua tentu menjadi penting ya?

Pasti, karena orang tua mendukung apa yang kita tekuni. Kalau orang tua nggak membolehkan, gimana dong?

Lantas, bagaimana Anda bisa menjaga konsistensi selama belasan tahun sehingga Anda tetap setia dan tidak meninggalkan dunia bulu tangkis?

Ya, soalnya saya senang main bulutangkis dan hobi juga. Jadi lebih senang menggelutinya.

1 / 3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
PEROLEHAN MEDALI
NEGARA Total
1
China 132 92 65 289
2
Japan 75 56 74 205
3
Korea Selatan 49 58 70 177
4
Indonesia 31 24 43 98
5
Uzbekistan 21 24 25 70