AJANG Asian Games Aichi-Nagoya 2026 kembali menyita perhatian dunia berkat aksi luar biasa dari pebasket muda berbakat asal China, Zhang Ziyu. Remaja berusia 19 tahun ini sukses menjadi pusat perhatian setelah berhasil membawa Timnas Basket Putri China meraih medali perunggu.
Keberhasilan tersebut dipastikan setelah China sukses menaklukkan Taiwan dengan skor 77-64 dalam perebutan tempat ketiga yang dihelat di Nagoya. Dalam laga krusial ini, Zhang kembali tampil sebagai motor permainan yang sangat sulit dibendung oleh lawan-lawannya di lapangan.
Nama Zhang Ziyu sendiri melambung tinggi dalam beberapa pekan terakhir, terutama setelah ia berhasil memukau bintang bola basket Amerika Serikat, Caitlin Clark, saat tampil di ajang Piala Dunia Wanita di Jerman. Berkat postur tubuhnya yang menjulang hingga 2,2 meter, ia bahkan tercatat lebih tinggi daripada legenda NBA, Shaquille O'Neal.
Keunggulan fisik yang dimiliki Zhang terbukti menjadi senjata yang sangat mematikan di turnamen multievent kali ini. Selama kompetisi berlangsung, ia konsisten mencatatkan diri sebagai pencetak angka rata-rata tertinggi untuk skuad China berkat kemampuannya dalam menjangkau bola dan menyelesaikan peluang di bawah ring.
Dominasi tersebut diakui langsung oleh para lawan yang menghadapinya di lapangan. Amari Robinson, pemain asal Mongolia yang sempat berduel dengan Zhang di babak perempatfinal, mengakui bahwa faktor tinggi badan sang pebasket muda merupakan tantangan tersendiri yang sangat berat.
"Tinggi badannya jelas menjadi lawan tersendiri. Ia memiliki tangan yang hebat dan gerak kaki yang luar biasa. Saya hanya berusaha untuk tampil setinggi mungkin dengan kemampuan yang saya miliki," kata Robison, melansir dari South China Morning Post, Selasa (29/9/2026).
Tidak hanya dari kalangan pemain, pujian setinggi langit turut dilontarkan oleh pelatih Timnas Basket Putri Filipina, Javier Alvarez Garcia, yang memprediksi masa depan cerah bagi sang atlet. Menurut Garcia, kapasitas yang dimiliki Zhang mampu membawanya menjadi salah satu pebasket top dunia dan bahkan sukses berkarier di WNBA.
"Ia hebat, ia sangat luar biasa. Ia kemungkinan akan menjadi salah satu dari satu atau dua pemain terbaik di dunia, sudah pasti," jelas Garcia.
Meski demikian, Zhang tetap merendah dan menyadari dirinya masih memerlukan banyak peningkatan, terutama dalam hal kelincahan fisik. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang terus mendampinginya dalam proses perkembangan kariernya.
"Saya hanya ingin bisa melakukan bagian saya dan berkontribusi untuk tim. Saya ingin bekerja keras dan belajar lebih banyak. Saya telah mencurahkan banyak tenaga untuk meningkatkan kelincahan. Saya berterima kasih atas semua upaya yang telah membantu saya menjadi pemain yang lebih baik," kata Zhang.
Pelatih China, Gong Luming, turut memberikan evaluasi positif terhadap kemajuan mobilitas anak asuhnya tersebut. Ia optimistis bahwa Zhang akan menjadi pemain yang sangat dominan di masa depan jika mampu memaksimalkan seluruh potensi yang ada pada dirinya.
"Tinggi badannya adalah salah satu senjatanya, jadi kami berharap ia bisa memaksimalkannya. Jika ia bisa melakukannya, ia akan menjadi tak terkalahkan," pungkas Gong Luming.
(Rivan Nasri Rachman)