PEVOLI asal Kazakhstan, Sabina Altynbekova, kembali mencuri perhatian publik internasional usai gelaran Piala Dunia 2026. Dalam pesta sepak bola empat tahunan tersebut, atlet berusia 29 tahun ini secara terbuka melayangkan pembelaan tegas kepada megabintang Cristiano Ronaldo yang menjadi sasaran kritik usai tersingkirnya Timnas Portugal dari Piala Dunia 2026.
Ronaldo sebelumnya menuai sorotan negatif menyusul kekalahan tipis Portugal dari Spanyol dengan skor 0-1 pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Kritikan tajam tersebut langsung direspons oleh Sabina melalui akun media sosial pribadinya untuk membela sang legenda.
Bagi Sabina, apa yang dialami Ronaldo adalah dinamika biasa dalam olahraga beregu di mana seorang pemain tidak bisa mengubah segalanya seorang diri. Ia menyayangkan sikap pihak-pihak yang kerap merunduk atau iri kepada atlet berprestasi, sembari menegaskan bahwa pemain berdedikasi tinggi akan selalu unggul.
"Momen ketika seorang Legenda pun menjadi sasaran perundungan dan rasa iri, bahkan oleh rekan setimnya sendiri. Begitulah hakikat olahraga beregu; Anda tidak bisa mengubah apa pun sendirian,” ungkap Sabina, dikutip dari media sosial pribadinya, Selasa (18/8/2026).
“Mereka yang layak akan selalu tampil sebagai pemenang, sang terbaik (Ronaldo)," tambahnya.
Di balik ketegasannya membela Ronaldo, sedikit yang tahu bahwa Sabina memiliki masa lalu penuh liku dan kerja keras. Jauh sebelum menikmati hidup sebagai bintang voli dunia, ia harus menempa mentalnya lewat keterbatasan ekonomi dan kedisiplinan yang ekstrem sejak usia remaja.
Ketika remaja seusianya menikmati masa muda dengan berpesta atau bersosialisasi, Sabina memilih mendekam di asrama atlet. Tanpa fasilitas mesin cuci, ia terbiasa mencuci pakaiannya secara manual dengan tangan serta menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film berulang kali dari laptop pinjaman atau membaca buku psikologi.
Prinsip hidup yang kuat tersebut terus dipegangnya hingga ia menikah dengan seorang pengusaha pada usia 24 tahun. Meski sempat diperkenalkan dengan kemewahan restoran mewah di Almaty, Sabina tetap konsisten menghindari klub malam demi menjaga produktivitas hidupnya.
Meski biduk rumah tangganya dengan Sayat Salmanuly harus kandas dan berujung perceraian pada tahun 2025, Sabina bangkit sebagai seorang ibu tunggal yang tangguh. Mental baja yang ia miliki selama tinggal di asrama menjadi fondasi kuat dalam menghadapi berbagai ujian hidup.
Kini, fokus Sabina kembali tertuju pada dunia olahraga yang membesarkan namanya. Keputusannya mengakhiri kontrak lebih awal dengan klub Astana pada musim 2026 sempat memicu spekulasi liar tentang masa depannya di dunia voli.
Namun, atlet berpostur 180 cm ini dengan cepat menepis segala rumor pensiun yang beredar. Ia memastikan bahwa ambisi dan apinya di dunia olahraga profesional masih menyala terang untuk menghadapi tantangan berikutnya. Sayangnya, sampai saat ini Sabina memang belum mengumumkan klub voli mana yang akan menjadi pelabuhan terbarunya usai meninggalkan Astana.
(Rivan Nasri Rachman)