JAKARTA - Andrea Iannone meraih kemenangan bersejarah bersama Ducati di MotoGP Austria 2016 pada 14 Agustus. Kemenangannya itu disebut menandai era baru Ducati.
Andrea Iannone mengenang kemenangan bersejarah saat itu. Bahkan, ia mengatakan semua orang menangis menyaksikan kemenangannya.
“Pada tahun 2016, kami meraih kemenangan pertama untuk Ducati setelah sekian lama. Saya rasa momen itu jelas menandai dimulainya era baru bagi Ducati,” ujar Iannone kepada MotoGP.com.
“Kami mulai bisa tersenyum kembali. Itu menjadi awal era baru bagi Ducati Corse,” ujar Manajer tim Davide Tardozzi.
Meskipun Ducati sering meraih podium sejak kedatangan Dall’Igna, kemenangan utama masih sulit digapai.
Akibat beberapa kali gagal finis (DNF), tim pabrikan ini mengawali akhir pekan di Austria dengan posisi kesembilan dan kesepuluh di klasemen kejuaraan dunia.
Saat itu, Desmosedici belum menjadi motor tangguh dan serba bisa yang nantinya akan mendominasi kelas tersebut. Namun, keunggulan jelasnya dalam performa di lintasan lurus yang membuatnya diuntungkan dengan karakter Sirkuit Red Bull Ring.
Performa Ducati dalam sesi uji coba sebagai persiapan menghadapi Grand Prix Austria pertama sejak 1997 itu memperlihatkan peluang emas yang ada di depan mata.
“Kami melakukan beberapa tes di sirkuit itu sebulan sebelumnya. Sejak saat itu, kami menyadari bahwa kami bisa meraih hasil maksimal di akhir balapan,” kata Dall’Igna.
Dovizioso tampil lebih cepat pada sesi latihan, namun Iannone kemudian merebut pole position, dengan Valentino Rossi (Yamaha) memisahkan kedua pembalap Ducati tersebut di baris depan.
Akan tetapi, Iannone kemudian membuat kejutan dengan melakukan pergantian ban di saat-saat terakhir.
"Saat kami mulai bersiap untuk balapan usai sesi pemanasan, terjadi perdebatan sengit di dalam garasi karena saya ingin menggunakan ban belakang tipe soft, sementara semua orang—termasuk Michelin—ingin saya menggunakan tipe medium," ucap Iannone.
Tardozzi membenarkan hal itu.
"Memang benar, karena saat tes kami sempat khawatir menggunakan ban tersebut, dan kami tahu bahwa ban medium memberi kami peluang untuk naik podium atau bahkan memenangkan balapan," ucapnya.
Meski demikian, Iannone dan kepala kru Marco Rigamonti—yang kini bekerja bersama Marc Marquez di tim pabrikan—memutuskan untuk mengambil risiko. Keputusan itu membuahkan hasil manis.
"Empat menit sebelum balapan dimulai, kami memutuskan untuk menggunakan ban soft demi mengejar kemenangan, dan itu adalah pilihan yang tepat," ucap Rigamonti.
Iannone berhasil mengelola performa ban belakang soft tersebut dan meraih kemenangan tipis dengan selisih 0,9 detik atas Dovizioso yang kecewa, sementara Jorge Lorenzo dengan motor Yamaha-nya tertinggal lebih dari tiga detik.
Iannone, yang pindah ke Suzuki pada tahun 2017 setelah posisinya diambil alih oleh Lorenzo dan tidak pernah lagi memenangkan balapan MotoGP.
“Itu pastinya menjadi salah satu kenangan terbaik dalam hidup saya,” katanya.
(Erha Aprili Ramadhoni)