MENONTON pertandingan bulu tangkis modern biasanya selalu diwarnai dengan atmosfer yang membara. Mayoritas pemain kerap berteriak lantang di atas lapangan demi mengusir rasa tegang, melepaskan tekanan, hingga merayakan poin krusial. Beberapa bahkan dikenal lewat aksi teatrikal yang ikonik.
Sebut saja eks ganda putra andalan Indonesia, Kevin Sanjaya Sukamuljo, yang dikenal dengan aksi tengilnya yang atraktif untuk meruntuhkan mental lawan. Atau ratu ganda putri China, Chen Qing Chen, yang kerap meledak-ledak dengan teriakan keras nan menggelegar langsung ke hadapan lawannya setelah memenangi reli panjang.
Kendati demikian, olahraga tepok bulu ini juga melahirkan deretan legenda yang memilih jalan sunyi. Mereka dikenal sangat irit ekspresi, dingin, dan nyaris tidak pernah tersulut emosi saat bertanding.
Uniknya, di balik ketenangan yang tampak seperti air tenang tersebut, mereka justru sukses mengukir prestasi yang luar biasa dahsyat. Penasaran siapa saja?
Nama Hendra Setiawan berada di garis terdepan jika membicarakan pemain dengan raut wajah paling datar di dunia bulu tangkis. Saking dingin dan mematikannya pembawaan pria yang akrab disapa "Koh Hendra" ini di atas lapangan, para pencinta badminton dunia sampai menjulukinya sebagai The Silent Killer.
Karakter tenangnya ini terlihat jelas pada berbagai laga besar, salah satunya saat ia bersama Mohammad Ahsan menumbangkan wakil Jepang, Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe, di babak Final All England 2019. Ketika Ahsan berteriak lepas dan melakukan sujud syukur sebagai bentuk selebrasi juara, Hendra hanya meresponsnya dengan senyuman tipis, jabat tangan, dan pelukan hangat.
Meski sesekali berteriak dalam momen yang sangat langka, Hendra hampir tidak pernah melakukan provokasi atau selebrasi berlebihan yang mengintimidasi lawan. Melalui karakteristik poker face tersebut, legenda ganda putra Indonesia yang kini telah resmi pensiun ini sukses menyabet seluruh gelar prestisius bumi, mulai dari medali emas Olimpiade Beijing 2008, emas Asian Games Incheon 2014, hingga tiga kali takhta Kejuaraan Dunia.
Tunggal putri andalan Jepang, Akane Yamaguchi, merupakan anomali di sektor tunggal putri yang terkenal menguras fisik. Akane hampir tidak pernah berteriak, mengepalkan tangan, atau menunjukkan gestur emosional di tengah-tengah reli yang melelahkan.
Satu momen ikonik terjadi pada perempat final All England 2017 silam. Saat terlibat reli sengit melawan wakil China, He Bingjiao, Akane melepaskan pukulan mematikan yang membuat lawannya terjatuh pasrah hingga raketnya terlempar. Bukannya bersorak memanfaatkan momentum, Akane justru langsung menunduk tanpa ekspresi dan secara alami mengelap lantai lapangan dari tetesan keringat menggunakan sepatunya.
Satu lagi atlet bulu tangkis yang dikenal sangat tenang di atas karpet hijau adalah maestro tunggal putri asal Taiwan, Tai Tzu Ying. Sepanjang karier emasnya, pemilik pukulan-pukulan ajaib ini sangat jarang terlihat melompat-lompat atau berteriak histeris saat merayakan kemenangan.
Satu-satunya momen di mana Tai Tzu Ying akan berteriak lantang adalah ketika dirinya benar-benar berada di bawah tekanan berat atau sedang tertinggal perolehan angka dari lawannya. Teriakan tersebut murni ia gunakan sebagai mekanisme pertahanan diri untuk mengembalikan fokus internalnya, bukan untuk mengintimidasi sang lawan.
(Rivan Nasri Rachman)