Indonesia Tersingkir di Fase Grup Piala Thomas 2026, Bukti Asia Tak Lagi Kekuatan Utama di Bulu Tangkis?

Rivan Nasri Rachman, Jurnalis
Kamis 30 April 2026 14:17 WIB
Tim bulu tangkis Indonesia di Piala Thomas 2026. (Foto: PBSI)
Share :

KUALA LUMPUR – Legenda tunggal putra Malaysia, Ong Ewe Hock, mengeluarkan peringatan keras bagi skuad negaranya menyusul peta kekuatan bulu tangkis dunia yang kini telah berubah total. Menurut Ong Ewe, kegagalan tragis Indonesia di Piala Thomas 2026 menjadi sinyal nyata bahwa negara-negara tradisional tidak lagi bisa merasa aman dengan status mereka.

Pernyataan ini muncul setelah Indonesia, pemegang 14 gelar Piala Thomas, secara mengejutkan lumat 1-4 di tangan Prancis pada laga terakhir Grup D di Forum Horsens, Denmark, Selasa 28 April 2026. Untuk pertama kalinya dalam sejarah sejak turnamen ini dimulai pada 1949, Tim Merah Putih harus tersingkir lebih awal di fase grup.

Bagi Ewe Hock, fenomena ini adalah bukti sahih bahwa dominasi Asia telah dipatahkan oleh investasi besar negara-negara yang dulunya dianggap anak bawang.

1. Runtuhnya Monopoli Empat Raksasa Dunia

Ewe Hock menyoroti status bulu tangkis sebagai cabang olahraga Olimpiade sejak 1992 telah memicu negara-negara seperti Taiwan, Jepang, Thailand, hingga India untuk serius membangun kekuatan. Munculnya kekuatan baru dari Eropa seperti Prancis semakin menegaskan era di mana juara hanya berputar di antara Malaysia, Indonesia, China, dan Denmark telah usai.

"Era bulu tangkis tidak seperti dulu lagi. Sebelumnya, bulu tangkis hanya dikuasai oleh Asia, tetapi sekarang karena sudah menjadi olahraga medali Olimpiade, semua orang fokus padanya," ujar Ong Ewe Hock, mengutip dari New Straits Times, Kamis (30/4/2026).

"Sebelumnya, juaranya hanya Malaysia, Indonesia, China, dan Denmark, tetapi sekarang Anda bisa melihat negara lain juga bisa menjadi juara,” tambahnya.

Alwi Farhan bikin Indonesia tertinggal 1-2 dari Thailand di Piala Thomas 2026 PBSI

2. Krisis Kedalaman Skuad Tunggal Putra Malaysia

Selain menyoroti peta persaingan global, Ewe Hock juga memberikan kritik pedas terhadap struktur internal Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia (BAM). Ia menilai Malaysia berisiko mengalami nasib serupa dengan Indonesia jika tidak segera membenahi sektor tunggal putra.

 

Menurut Ewe Hock, percuma mendatangkan pelatih kelas dunia seperti Kenneth Jonassen jika tidak ada stok pemain yang cukup untuk ditempa.

"Kami telah mengambil salah satu pelatih terbaik di dunia, Kenneth Jonassen di BAM, tetapi kami tidak memiliki cukup pemain untuk dia latih. Jadi bagaimana dia bisa membuat mereka hebat? Jika ingin menjadi hebat, butuh waktu tiga hingga lima tahun lagi," tegas Ewe Hock.

Tim bulu tangkis Indonesia jelang Piala Thomas dan Uber 2026. (Foto: PBSI)

Ewe Hock membandingkan kondisi Malaysia dengan Taiwan yang saat ini memiliki tiga pemain tunggal di peringkat 20 besar dunia. Solusi yang ditawarkan Ewe Hock adalah dengan memperbanyak kuantitas pemain terlebih dahulu sebelum menuntut kualitas.

"Mulai sekarang, kita perlu merekrut lebih banyak pemain. Jangan bicara kualitas dulu, kita butuh kuantitas dulu, karena dari kuantitas Anda akan mendapatkan kualitas," pungkasnya.

(Rivan Nasri Rachman)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Sports lainnya