DALAM sejarah bulu tangkis dunia, jarang ada pasangan ganda yang memiliki ikatan sekuat Christinna Pedersen dan Kamilla Rytter Juhl. Namun, di balik kekompakan mereka dalam mendulang medali untuk Denmark, tersimpan sebuah rahasia besar yang terjaga rapat selama hampir satu dekade.
Keduanya berhasil mengecoh publik serta Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) mengenai status hubungan mereka yang sebenarnya di luar lapangan. Pedersen dan Juhl bukan sekadar rekan setim biasa, mereka adalah salah satu ganda putri terbaik yang pernah ada.
Puncak karier Pedersen/Juhl ditandai dengan raihan medali perak di Olimpiade Rio 2016 serta gelar juara All England 2018. Berkat konsistensi tersebut, pasangan ini sempat menduduki peringkat kedua dunia pada tahun 2018.
Lalu dunia bulu tangkis dibuat gempar ketika pada tahun 2017, Pedersen dan Juhl secara terbuka mengumumkan mereka adalah pasangan kekasih. Fakta yang lebih mengejutkan lagi, jalinan asmara tersebut ternyata sudah dimulai sejak tahun 2009.
Selama bertahun-tahun, tidak ada yang menyangka bahwa intensitas dan chemistry yang mereka tunjukkan di lapangan berasal dari hubungan cinta yang mendalam. Pengakuan ini dilakukan saat mereka masih aktif berkompetisi.
Setelah memutuskan pensiun bersama pada tahun 2019, kehidupan mereka memasuki babak baru. Di awal tahun pengunduran diri tersebut, keduanya kembali berbagi kabar bahagia mengenai kelahiran putri pertama mereka, yang semakin menegaskan keseriusan hubungan yang telah mereka bangun.
Keberhasilan Pedersen/Juhl menutupi hubungan pribadi dari sorotan media dan otoritas BWF selama bertahun-tahun bukanlah tanpa alasan. Keduanya memiliki komitmen kuat untuk memisahkan urusan hati dengan profesionalisme sebagai atlet elite dunia.
Pedersen/Juhl ingin dunia mengenal mereka karena kemampuan di atas lapangan, bukan karena latar belakang hubungan romantis.
"Alasan pertama adalah Christinna dan saya ingin diakui untuk prestasi olahraga kami dan bukan untuk menjadi pasangan," ujar Juhl sebagaimana dikutip dari Daily Mail.
Menurut Juhl, setelah merasa mendapatkan pengakuan atas prestasi-prestasi besar yang diraih, barulah mereka merasa saat itu adalah waktu yang tepat untuk berterus terang kepada publik.
(Rivan Nasri Rachman)