Meski rindu keluarga, pemain kelahiran 6 April 2004 itu tetap berkomitmen penuh terhadap profesinya sebagai pesepakbola. Mantan pemain Persijap Jepara itu menilai pengorbanan tersebut menjadi bagian dari perjalanan karier di dunia sepakbola.
“Tentu terasa sulit karena keluarga saya berada sangat jauh. Saya sebenarnya sangat ingin menghabiskan hari-hari seperti ini bersama keluarga. Namun, sepakbola adalah bagian dari hidup saya. Saya harus rela berkorban demi sepakbola,” jelasnya.
Rahmatsho juga memastikan ibadah puasa tidak mengganggu aktivitasnya di lapangan. DIa justru merasa mendapatkan tambahan energi selama menjalani Ramadan. Pemain bernomor punggung 63 itu mengaku tetap mampu menjaga kondisi fisiknya melalui pola makan yang teratur saat sahur dan berbuka. Cara tersebut membuatnya tetap bugar meski menjalani latihan dengan intensitas tinggi.
“Sama sekali tidak sulit, sebaliknya di bulan ini saya justru mendapatkan lebih banyak energi dan kekuatan, Ramadan sangat penting bagi saya,” ujar Rahmatsho Rahmatzoda.
“Sama sekali tidak memberatkan. Saya makan di pagi hari saat sahur dan kemudian saat berbuka puasa. Bisa dibilang pada masa-masa seperti ini, saya justru memiliki lebih banyak kekuatan dan energi,” tambahnya.
Rahmatsho Rahmatzoda juga tidak mengalami kesulitan dalam memilih makanan selama berada di Yogyakarta. Menurutnya, cita rasa makanan di kota tersebut tidak jauh berbeda dengan hidangan yang biasa ia temui di Tajikistan.
(Ramdani Bur)