Pengalaman itu pula yang membuat Sofia terus kembali. Sebelum Aichi-Nagoya, ia pernah menjadi volunteer di FIFA World Cup Qatar 2022, kemudian event di Berlin pada 2023 dan Olimpiade Paris 2024.
Setiap pengalaman membawanya bertemu orang-orang baru dari berbagai negara. Dari sana, Sofia merasa cara pandangnya terhadap dunia ikut berubah.
“Setelah kita bertemu dengan orang baru, apalagi ketemu dengan teman-teman dari overseas, dari luar negeri, kita benar-benar tahu pemikiran kita tuh sudah beda,” tuturnya.
Pertemuan dengan orang-orang dari berbagai negara juga menjadi kesempatan bagi Sofia untuk bertukar budaya. Ia bahkan selalu membawa cinderamata dari Indonesia setiap kali menjadi volunteer di luar negeri.
“Setiap kita event di dunia manapun, di belahan dunia manapun, aku selalu bawa cinderamata dari Indonesia. Jadi kita bisa tukar-tukar,” katanya.
Menjadi volunteer internasional tentu bukan perkara murah. Tiket pesawat, tempat tinggal, makanan di luar jam bertugas, hingga berbagai kebutuhan selama perjalanan ditanggung sendiri.
“Dari tiket pesawat kemudian kami juga pesan Airbnb, kemudian makan juga kami sendiri. Kecuali saat shift dan transport kita sendiri,” ujar Sofia.
Karena itu, perjalanan menjadi volunteer sekaligus membutuhkan persiapan finansial. Sofia dan teman-temannya harus menabung dan menyisihkan waktu dari pekerjaan masing-masing.
“Dua tahun sekali nabung dan kerja. Ini tuh untuk healing-nya,” katanya sambil tertawa.
Sebagian teman Sofia bekerja secara work from home, sementara lainnya memiliki perusahaan sendiri. Dengan pekerjaan tersebut, mereka bisa mengatur waktu untuk mengikuti event olahraga internasional.
Bagi Sofia, ada kepuasan tersendiri dari konsep “jalan-jalan” yang mereka jalani. “Kalau orang jalan-jalan aja, ini jalan-jalan tapi bantu orang,” ujarnya.
(Ramdani Bur)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.