DUNIA bulu tangkis Indonesia pernah memiliki permata yang bersinar di usia yang sangat belia. Mia Audina adalah nama yang tak mungkin dilupakan oleh para pencinta olahraga tepok bulu Tanah Air.
Menjadi tumpuan sejak remaja, Mia mencatatkan sejarah luar biasa sebagai penentu kemenangan Indonesia atas China di final Piala Uber 1994. Kala itu, ia baru menginjak usia 14 tahun, namun mental bajanya sudah mampu mengguncang panggung dunia.
Prestasi Mia terus meroket dengan membawa pulang medali perak Olimpiade Atlanta 1996 di usia 17 tahun, disusul medali emas SEA Games 1997 dan kembali menjuarai Piala Uber 1996. Namun, di tengah puncak karier yang gemilang, sebuah keputusan besar diambil yang mengubah arah hidupnya selamanya: ia memilih untuk berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara Belanda.
Banyak yang mengira kepindahan Mia Audina ke Negeri Kincir Angin pada tahun 1999 semata-mata karena mengikuti sang suami, Tylio Lobman. Namun, melalui wawancara bersama PB Djarum, terungkap fakta yang lebih menyentuh. Mia mengaku kehilangan motivasi bermain setelah ibunda tercinta meninggal dunia.
Bagi Mia, sang ibu adalah sosok di balik semangat juangnya selama ini. Di usia yang masih 19 tahun, ia merasa butuh lingkungan baru untuk bisa bangkit dari duka mendalam.
“Bukan karena ikut suami ya, banyak kurang lebihnya seperti itu. Tetapi, banyak cerita di belakang itu. Salah satu alasannya karena mama saya meninggal,” kata Mia Audina, dikutip dari PB Djarum, Selasa (17/2/2026).
“Saya selalu main buat mami yang sudah sakit beberapa tahun lalu... Begitu mami sudah tidak ada, saya harus punya sesuatu yang baru, lingkungan baru. Semuanya untuk bisa maju terus,” tambahnya.