NAMA pebulu tangkis Handoko Yusuf Wijayanto mungkin tidak selalu menghiasi tajuk utama media olahraga nasional, namun jejak kariernya menyimpan catatan emas yang impresif. Mantan tunggal putra binaan PB Djarum ini pernah menjadi momok bagi para pemain elit dunia saat ini, sebelum akhirnya memutuskan untuk merajut jalan baru di Amerika Serikat.
Lahir di Jakarta pada 26 April 1999, Handoko adalah bukti nyata bahwa talenta bulu tangkis Indonesia tersebar luas di luar asrama Pelatnas. Di level junior, ia tercatat pernah menumbangkan nama-nama besar seperti Ng Tze Yong (Malaysia) hingga Jia Heng Jason Teh (Singapura). Namun, kemenangan yang paling membekas adalah saat ia menundukkan bintang China, Li Shi Feng.
Pada perempat final Malaysia International Junior Open 2017, Handoko secara mengejutkan mengalahkan Li Shi Feng lewat pertarungan sengit tiga gim, 20-22, 21-15, dan 21-17. Mengingat kini Li Shi Feng bercokol di peringkat enam dunia, Handoko mengaku sempat tak percaya dengan pencapaian masa lalunya itu.
"Saya tidak expect saat itu bisa mengalahkan Li Shi Feng. Tapi yang paling tidak menyangka adalah pemain yang pernah saya kalahkan ini ternyata sekarang jadi pemain top level dunia," kenang Handoko.
Sayangnya, meski potensial, jalan menuju Pelatnas PBSI tak kunjung terbuka baginya. Pada akhir 2019, Handoko harus meninggalkan status atlet PB Djarum karena kebijakan regenerasi. Ia sempat bertahan sebagai sparring partner hingga 2021 sebelum akhirnya melanjutkan jalur profesional melalui beasiswa di Sarwendah Badminton Club dan menempuh studi Manajemen di Perbanas Institute.
Hasrat untuk berkompetisi di panggung dunia tak pernah padam dalam diri pria yang kini menginjak usia 26 tahun tersebut. Pada September 2024, sebuah pintu kesempatan terbuka lebar ketika ia bertolak ke Amerika Serikat untuk bergabung dengan Long Island Badminton Center di New York.