Julukan ini bukan tanpa alasan, sebab di usianya yang kala itu sudah 30 tahun dan setelah melewati dua cedera serius, Marin mampu kembali ke level tertinggi dan menembus final turnamen level Super 750.
"Untuk kembali ke level teratas sungguh luar biasa. Sulit untuk percaya pada diri sendiri lagi, tapi inilah saya, satu final lagi," ungkap Marin.
Namun, di balik kegarangannya di lapangan, peraih medali emas Olimpiade Rio 2016 ini menyampaikan penyesalannya atas insiden memalukan dengan Sindhu. Marin menyadari bahwa perang mulut tersebut bukanlah contoh yang baik bagi para penonton.
Menurutnya, persaingan seharusnya terjadi dalam bentuk permainan, bukan serangan personal terhadap lawan.
"Saya tidak menyukai momen seperti ini. Kami harus berjuang untuk berlaga, tetapi tidak melawan satu sama lain," pungkas Marin.
(Rivan Nasri Rachman)