DUNIA bulu tangkis internasional pernah dibuat terpana oleh sosok pemuda asal Kudus yang memiliki lompatan ikonik dan pukulan mematikan. Liem Swie King bukan sekadar nama, melainkan simbol kejayaan bulu tangkis Indonesia di medio 1970-an hingga akhir 1980-an.
Pria kelahiran 28 Februari 1956 ini dikenal sebagai atlet yang berhasil melanjutkan estafet emas tunggal putra Indonesia dengan gaya permainan yang sangat agresif. Nama King mulai menjadi buah bibir saat usianya baru menginjak 20 tahun.
Kala itu, Liem Swi King membuat kejutan besar dengan menembus partai final All England 1974, turnamen paling bergengsi di dunia. Meski harus puas menjadi runner-up setelah mengakui keunggulan seniornya, Rudy Hartono, momen tersebut menjadi gerbang pembuka bagi karier fenomenalnya di masa depan.
Pasca debut impresifnya di All England, prestasi King melesat bak meteor. Ia tercatat sukses menjuarai All England sebanyak tiga kali, yakni pada tahun 1978, 1979, dan 1981.
Tak hanya itu, dominasi King di sektor tunggal putra semakin sahih dengan raihan gelar juara Piala Dunia Bulu Tangkis pada 1979 dan 1982. Kehebatannya membuat publik yakin bahwa Indonesia telah menemukan penerus sepadan bagi sosok Rudy Hartono.
Menariknya, talenta luar biasa King tidak hanya terbatas pada sektor tunggal. Ia juga membuktikan kualitasnya sebagai pemain ganda putra papan atas saat berpasangan dengan Kartono Hariamanto, Bobby Ertanto, hingga Eddy Hartanto.
Terbukti, King merengkuh gelar juara Piala Dunia ganda putra tiga tahun berturut-turut pada 1984-1986. Koleksi prestasinya makin lengkap dengan sumbangan trofi Piala Thomas (1976, 1979, 1984), emas Asian Games (1978), serta rentetan emas SEA Games.