Profil Ni Nengah Widiasih, Penyumbang Medali Pertama Indonesia di Paralimpiade Tokyo 2020

Andhika Khoirul Huda, Jurnalis · Kamis 26 Agustus 2021 13:29 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 26 43 2461472 profil-ni-nengah-widiasih-penyumbang-medali-pertama-indonesia-di-paralimpiade-tokyo-2020-UJ4BTrH0db.jpg Ni Nengah Widiasih merebut medali pertama untuk Indonesia di Paralimpiade Tokyo 2020. (Foto: Reuters)

TOKYO – Nama Ni Nengah Widiasih tengah mendapat perhatian besar karena sukses membawa harum Indonesia di pentas Paralimpiade Tokyo 2020. Atlet para-powerlifting itu berhasil menyabet medali perak yang membuat Indonesia merebut medali pertamanya di Paralimpiade Tokyo 2020.

Tampil di kelas 41 kg putri di Tokyo International Forum, Kamis (26/8/2021) siang WIB, Ni Nengah Widiasih memulai penampilannya dengan apik. Atle kelahiran 12 Desember 1992 itu pun memastikan diri merebut medali perak usai mengangkat beban 98 kilogram.

Ni Nengah Widiasih

Widi -sapaan akrab Ni Nengah Widiasih- hanya kalah dari wakil China, Guo Lingling. Peraih medali emas itu memecahkan rekor dunia dengan angkatan 108 kg.

Kesuksesan Widi di pentas Paralimpiade Tokyo 2020 membuat prestasinya di dunia para-angkat besi dipastikan makin mentereng. Namanya sendiri sebenarnya sudah tidak asing lagi di cabang olahraga tersebut.

BACA JUGA: Breaking News: Ni Nengah Widiasih Sumbang Medali Pertama untuk Indonesia di Paralimpiade Tokyo 2020

Sebelum sukses di Paralimpiade Tokyo 2020, Widi sudah kerap kali menyumbang medali untuk Indonesia di berbagai ajang pesta olahraga dunia. Ternyata di balik kesuksesannya, Widi memiliki perjalanan hidup yang tidak mudah.

BACA JUGA: Klasemen Sementara Perolehan Medali Paralimpiade Tokyo 2020 hingga Kamis 26 Agustus 2021 pukul 13.00 WIB: Indonesia Urutan 19!

Perempuan yang kini berusia 28 tahun itu lahir dalam keadaan normal dan baru mengalami kelumpuhan di usia tiga tahun. Saat itu, Widi mengalami demam tinggi hingga badannya mengejang.

Bahkan, setelah dibawa ke dokter oleh sang ibu, suhu badan Widi tak kunjung turun. Kakinya pun kemudian terasa lemas sejak kejadian itu.

Setelah itu, orangtua Widi mencoba segala pengobatan untuk membuat kakinya normal kembali. Namun, usaha keras mereka tak kunjung membuahkan hasil. Orangtuanya pun harus menerima keadaan anaknya yang lumpuh.

Atlet yang lahir pada 12 Desember 1992 itu baru merasakan perbedaannya dengan anak-anak lain ketika menginjak bangku SD. Dia heran mengapa tidak bisa berlari seperti temannya yang lain.

Meski begitu, dukungan terus mengalir untuk Widi dari orangtuanya. Ayahnya pun berkata kepadanya bahwa dia akan mengerti soal keadaannya saat beranjak dewasa nanti.

Ni Nengah Widiasih

Widi pun merasa bersyukur memiliki keluarga yang tidak malu dengan kekurangannya. Dia justru sangat merasakan dukungan dari keluarganya untuk terus tumbuh tanpa malu dan bersosialisasi dengan orang lain.

Perkenalannya dengan dunia angkat berat sendiri dimulai saat Widi sering mengikuti kakaknya yang seorang lifter, I Gede Suantaka. Dia diperbolehkan untuk ikut latihan angkat berat dan tak pernah sekalipun dilarang.

Setelah itu, Widi yang masih duduk di bangku SMP berhasil menjadi juara di Kejurnas Para-Angkat Berat. Padahal, saat itu dia baru menjalani latihan selama tiga bulan.

Performa apiknya tersebut, membuat Widi masuk ke pelatnas angkat berat di Solo. Meski harus meninggalkan rumahnya di Bali, Widi tidak merasa berat karena mendapat dukungan dari orangtuanya.

Ni Nengah Widiasih

Sejak saat itu, dia konsisten untuk fokus membangun kariernya di Tim Nasional Angkat Berat Indonesia. Selain memenangkan perak pada Paralimpiade Tokyo 2020, Widi juga sudah mempersembahkan medali perak pada Asian Para Games 2014 di Incheon dan medali perunggu Paralimpiade Rio 2016.

Saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Para Games 2018, dia juga menyumbangkan satu medali. Dia menyabet medali perak di cabor para-angkat beban nomor 42 kg putri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini