Terpuruk Selama 3 Musim, Honda: Saya Memahami Kekecewaan Alonso

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Sabtu 09 Desember 2017 07:25 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 09 37 1827695 terpuruk-selama-3-musim-honda-saya-memahami-kekecewaan-alonso-rUWLHlbAt3.jpg Fernando Alonso (Foto:AFP)

HAMAMATSU – Anak dari penemu mesin Honda, Hirotoshi Honda, mengaku bisa memahami kekecewaan pembalap McLaren, Fernando Alonso, setelah tiga tahun terpuruk dengan mesin Honda yang tidak kompetitif.

Alonso diyakini sebagai salah satu faktor yang mendorong McLaren untuk berpisah dengan produsen mesin asal Jepang tersebut pada musim 2018. Tim yang berbasis di Woking tersebut sepakat untuk menggunakan mesin milik Renault untuk memulai musim depan.

Awal keterpurukan Alonso ketika McLaren menjalin kemitraan dengan Honda pada musim 2015. Kala itu Formula One (F1) menetapkan regulasi mesin menggunakan V6 turbo hybrid dari yang semula menggunakan mesin bertipe V8.

Sejak saat itu Honda dinilai gagal dalam menciptakan mesin yang kompetitif. Puncak kekesalan mereka terluapkan pada musim 2017 ketika serangkaian masalah seperti kesalahan tangki bahan bakar, gangguan kelistrikan, kerusakan gearbox dan kegagalan kinerja mesin membuat Fernando Alonso dan Stoffel Vandoorne terseok di musim ini.

Baca Juga:

(Presiden FIA Sanjung Kehebatan Lewis Hamilton di F1 2017)

“Alonso adalah pria muda yang cerdas dan menawan. Saya dapat dengan mudah memahami alasan kekecewaanya yang besar. Kehidupan seorang atlet profesional sangat singkat dan menegangkan. Ini merupakan momen penting bagi kariernya. Tapi ini bukan kesalahan saya, tolong tanya Honda,” terang Hirotoshi, menyadur dari Sportsmole, Sabtu (9/12/2017).

Honda akan pindah memasok mesin untuk Toro Rosso pada musim 2018. Dan pekan ini, mereka mengumumkan bahwa bos Honda F1, Yusuke Hasegawa telah dilengserkan dari posisinya.

“Saya yakin satu hal. Orang Jepang memiliki budaya bertarung di F1. Kami mungkin sangat sopan, tapi kami sebenarnya bisa bertarung. Ayah saya adalah seorang pejuang sejati yang membenci berada di posisi kedua. Sesaat sebelum kematiannya, ketika Aryton Senne tidak dapat lagi menang, ayah saya mengeluh dari ranjang rumah sakitnya,” tuntasnya.

(lsk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini