SOLO - Protes terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tak segaris tak harus dilakukan dengan aksi unjuk rasa dengan menggelar demo turun kejalan.
Seperti yang dilakukan para pecinta memanah tradisional di Solo, Jawa Tengah, ini atau warga Solo biasa menyebutnya dengan jemparingan punya cara berbeda untuk menyampaikan protes terhadap pemerintah tak memasukan panah tradisional dalam Pekan Olah Raga Nasional (PON) 2012 di Riau.
Salah satunya dengan memanah menggunakan pakaian tradisional khas Jawa. Di mana seluruh perserta memanah ini tidak memanah dengan menggunakan pakaian olahraga yang biasanya dipakai saat memanah.
Namun, para pemanah ini seluruhnya menggunakan pakaian jawa di mana atasan pakaian mereka menggunakan Sorjan dan bawahnya menggunakan jarik. Begitu pula dengan pemanah wanitanya pun menggunakan pakaian tradisional jawa.
Tak hanya soal pakaian saja para pemanah ini menunjukan kebolehannya. Namun dari cara mereka memanah pun berbeda. Biasannya, dalam memanah, seluruh perserta atau atlet panah dalam posisi berdiri.
Tapi dalam jemparingan ini, seluruh perserta atau atlet membidik titik sasaran dilakukan dalam posisi duduk.
Bagi perserta, mulai dari cara busana harus menggunakan pakaian tradisional hingga cara memanah dengan duduk bersila, bagi perserta tidak ada kesulitan sama sekali. Bahkan mereka mengaku justru bangga bisa melestarikan budaya jawa.
"Saya tidak merasa kesulitan memanah menggunakan pakaian jawa. Saya justru sangat bangga ikut melestarikan budaya jawa," ungkap Joko Haryadi saat ditemui di lokasi memanah di komplek Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, Sabtu 21 Mei 2016.
Hal sama juga diutarakan Wiwik asal Klaten. Menurut Wiwik, memanah pakai pakaian tradisional dan duduk bersila saat memanah, justru menimbulkan suasana berbeda," jelasnya.
Semakin unik lagi dikarenakan dalam lomba memanah tradisional ini ditandai dengan bunyi gong. Dan bila busur panah yang juga dibawahnya itu mengenai sasaran, bunyi gong langsung ditabuh.
Uniknya lagi, olah raga yang membutuhkan konsentrasi tinggi ini pun menyediakan hadiah berupa mie instan.
Dalam memanah tradisional ini para pemanah harus bisa memanah bandulan, celeng goteng dan bandulan srabi.
Sementara itu penasehat lomba tradisional Sutopo mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan budaya bangsa. Dan juga sebagai bentuk protes para pemanah tradisional tak diikutkan dalam memanah tradisional.
Seharusnya pemerintah kembali memasukan memanah tradisional dalam kalender olahraga tertinggi PON selanjutnya.
Padahal sejak PON 1 di Solo, lomba memanah sudah diikut sertakan dalam cabang olahraga dalam PON.
Karena itu ia berharap dalam PON selanjutnya pemerintah kembali memasukkan lomba memanah tradisional sebagai salah satu cabang dalam PON.
(Pidekso Gentur Satriaji)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.