PARTISIPASI petenis kebanggaan Filipina, Alexandra Eala, di ajang Asian Games 2026 kini berada diujung tanduk. Langkah sang ratu tenis Asia Tenggara itu terancam terganjal aturan ketat dari Asosiasi Tenis Wanita Profesional (WTA) yang tidak memberikan toleransi terkait turnamen wajib.
Kabar mengejutkan ini dilaporkan oleh media asal Filipina, Philippine Daily Inquirer. Situasi pelik ini bermula ketika permintaan pengecualian aturan yang diajukan oleh petenis asal Indonesia berperingkat ke-36 dunia, Janice Tian, ditolak mentah-mentah oleh pihak WTA.
Penyebab utama dari masalah ini adalah benturan jadwal yang sangat telak antara pesta olahraga terbesar se-Asia tersebut dengan turnamen bergengsi WTA 1000 China Open di Beijing. Ajang Asian Games 2026 sendiri dijadwalkan bergulir pada 27 September hingga 3 Oktober mendatang.
Bagi petenis dengan peringkat tinggi, turnamen level WTA 1000 berstatus sebagai kewajiban mutlak. Pemain yang mangkir tanpa alasan valid yang direstui organisasi terancam sanksi berat berupa pemotongan poin peringkat hingga denda finansial masif.
Merujuk pada regulasi tahun ini, pemain yang berada di peringkat 11 hingga 25 dunia diwajibkan untuk hadir di turnamen wajib tersebut. Jika melanggar, mereka harus siap menanggung denda sebesar 10.000 dolar Amerika Serikat (Rp176 juta), sementara Eala saat ini nangkring di posisi 18 dunia.
Meskipun menyadari risiko besar tersebut, Eala sebelumnya secara bulat memilih untuk mengesampingkan China Open 2026 demi membela panji negaranya di Aichi-Nagoya, Jepang. Ia sempat mengajukan permohonan pengecualian resmi kepada WTA dan masih menanti keputusan akhir.
Namun, melihat preseden dari kasus penolakan yang menimpa Janice Tian sebelumnya, peluang bagi Eala untuk mendapatkan kelonggaran dari WTA dinilai sangat tipis. Kondisi ini membuat sang atlet tidak hanya terancam denda, tetapi juga potensi penurunan peringkat drastis.
Bagi publik Filipina, sosok Eala memegang peranan krusial sebagai ikon olahraga nasional berkat sederet pencapaian gemilangnya di panggung dunia. Mulai dari menembus semifinal Miami Open, menumbangkan petenis top dunia, hingga performa impresifnya di US Open telah menciptakan fenomena tersendiri yang disebut 'Eala effect'.
Tekad kuat peraih medali perunggu Asian Games Hangzhou 2022 ini untuk mengharumkan nama bangsa mendapat apresiasi luar biasa di tanah airnya. Pemerintah melalui para pejabat legislatif kini bahkan mulai mendesak adanya subsidi negara untuk menanggung segala sanksi denda demi memastikan sang 'peri tenis' bisa tetap tampil membela panji Merah-Putih.
"Jika Eala harus membayar denda karena mewakili negaranya, bukankah pemerintah harus memberikan bantuan dan dukungan?" tegas Senator pemerintah Filipina, Erwin Tulfo, dikutip dari Chosun, Selasa (15/9/2026).
(Rivan Nasri Rachman)