Sejak Marini mulai berkompetisi penuh waktu di kejuaraan dunia pada tahun 2016 di kelas Moto2, ia telah berkembang menjadi pembalap profesional. Namun, ia menekankan keluarga tetap menjadi aspek penting dalam kariernya.
"Memang sulit, terutama karena tekanan yang terus-menerus kita hadapi sepanjang tahun—terutama pada momen-momen tertentu selama musim balap—itu sangat berat," kata Marini.
“Ini adalah bagian tersulit—saat menghadapi masalah di sini, lalu pulang ke rumah dalam kondisi yang sangat berat dan hancur secara mental," ujarnya.
Luca Marini pun memuji peran istrinya saat dirinya terpuruk.
“Tidak mudah menghadapi saya saat saya sedang terpuruk, namun Marta [istri Marini] selalu melakukan hal yang luar biasa. Dia tahu betul kapan harus berbicara dengan saya—atau kapan sebaiknya tidak mengajak saya bicara," tuturnya.
“Kami sudah saling mengenal sejak lama, dan saya sangat beruntung memiliki keluarga seperti ini karena segalanya berjalan sesuai dengan impian masa kecil saya,” ucap Luca Marini.
(Erha Aprili Ramadhoni)