JAKARTA - Taman Mini Indonesia Indah (TMII) bakal disulap menjadi lokasi lari lewat acara bertajuk Bhinneka Run 2026. Ajang lari tersebut akan berlangsung pada akhir pekan ini tepatnya pada Sabtu 4 Juli.
Ajang tersebut mengusung “Different Stories, One Finish Line” yang mana penyelenggara ingin meghadirkan pengalaman berbeda bagi para peserta. Nantinya, peserta bukan sekadar mengejar catatan waktu, tetap diajak menikmati kekayaan budaya Nusantara sepanjang lintasan.
Penyelenggaraan akan menghadirkan pertunjukan seni tradisional akan mengiringi perjalanan peserta, mulai dari Angklung, Barongsai, Tanjidor, Jathilan, Tor-Tor, hingga atraksi budaya lainnya. Konsep tersebut membuat peserta seolah-olah tengah berlari mengelilingi Indonesia dalam satu kawasan.
"Bhinneka Run 2026 bukan sekadar ajang adu kecepatan atau mencari siapa yang tercepat mencapai garis finis. Kami ingin menciptakan sebuah panggung di mana setiap pelari, dari latar belakang apa pun, merasa diterima dan dirayakan,” kata M. Gilang Kartiko selaku Ketua Penyelenggara, dalam konferensi pers, Selasa (30/6/2026).
Gilang berharap ajang tersebut dapat berjalan lancar dan menjadi ruang bagi siapa pun untuk merayakan keberagaman melalui olahraga. Sebanyak 3.500 peserta akan ambil bagian dalam ajang Bhinneka Run 2026.
Event lari tersebut menyediakan tiga kategori lomba, yakni 10 kilometer (10K), 5 kilometer (5K), dan 3 kilometer (3K). Kategori 10K ditujukan bagi pelari yang ingin berkompetisi, sementara nomor 5K dan 3K dirancang agar lebih ramah bagi pelari rekreasional, pemula, maupun keluarga.
“Melalui tagline 'Different Stories, One Finish Line', kami ingin menyampaikan pesan meski kita memiliki perjalanan hidup dan cerita yang berbeda-beda, kita semua dipersatukan oleh semangat sportivitas dan rasa cinta terhadap Indonesia. Ini adalah perayaan kebhinekaan dalam denyut nadi lari yang sehat,” tuturnya.
Tak hanya berorientasi pada olahraga, Bhinneka Run 2026 juga mengusung misi sosial. Sebanyak 30 persen hasil penjualan tiket dan donasi akan disalurkan untuk bantuan nutrisi berupa susu dan buah-buahan. Sementara itu, 70 persen sisanya dialokasikan untuk pengadaan buku guna mendukung peningkatan literasi masyarakat.
(Wikanto Arungbudoyo)