CABANG olahraga Taekwondo dipastikan mengirim tiga atletnya untuk mewakili Indonesia di ajang Asian Games 2026 di Nagoya, Jepang. Hal itu sesuai dengan surat resmi dari Asian Taekwondo Union (ATU) kepada PBTI.
Indonesia dipastikan menambah dua nomor kualifikasi untuk Asian Games 2026. Tambahan tersebut melengkapi satu tiket yang sebelumnya telah diamankan M. Rizal dari nomor poomsae putra.
Dua tiket terbaru datang dari sektor kyorugi putra, masing-masing pada kelas under 68 kilogram dan under 80 kilogram. Sebuah pencapaian yang menunjukkan langkah Taekwondo Indonesia yang dikomandoi oleh Ketua Umum PBTI Letjen TNI Richard Tampubolon terus bergerak maju.
M. Rizal sejarah saat meraih medali perunggu pada Kejuaraan Asia Taekwondo 2026 di Mongolia sekaligus mengamankan satu tempat bagi Merah Putih. Kini, dua nomor lainnya datang dari sektor kyorugi.
Nomor pertama diperoleh dari kelas under 68 kilogram putra yang pada Asian Taekwondo Championship Mongolia 2026 diwakili oleh M. Bassam Raihan. Perjalanannya memang tidak berakhir dengan medali.
Pada babak 16 besar, Bassam menang atas taekwondoin Jepang, Shoki Asada. Sayangnya, pada babak perempatfinal, ia harus mengakui keunggulan taekwondoin asal Kazakstan Samirkhon Ababakirov.
Jalur kompetisi yang terjadi kemudian menghasilkan akumulasi poin dan kuota. Pada akhirnya, itu membuka jalan bagi Indonesia untuk mengamankan satu nomor menuju Nagoya.
Nomor kedua datang dari kelas under 80 kilogram putra melalui penampilan M. Raihan Fadhilah. Ia memulai langkahnya dengan kemenangan meyakinkan atas taekwondoin Nepal, Abhishek Baral, pada babak 16 besar.
Langkahnya baru terhenti di perempatfinal setelah menghadapi wakil Uzbekistan, J. Jaysunov. Meski tidak naik podium, penampilan Raihan memberikan kontribusi penting dalam perolehan kuota Indonesia.
Bagi PBTI, pencapaian ini lebih dari sekadar angka. Tiga nomor yang berhasil diamankan menjadi penanda proses pembinaan yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir mulai menunjukkan hasil yang nyata.
Dalam olahraga prestasi, keberhasilan tidak selalu diukur dari jumlah medali yang dibawa pulang pada satu kejuaraan. Terkadang, keberhasilan justru terlihat dari kemampuan menjaga kesinambungan regenerasi, menyiapkan atlet-atlet baru, dan memastikan Indonesia tetap hadir dalam panggung Asia.
Itu menjadi validasi atlet-atlet Indonesia mampu bersaing di level Asia yang semakin kompetitif. Negara-negara seperti Korea Selatan, Iran, Uzbekistan, Jepang, hingga China terus meningkatkan kualitas pembinaan mereka.
Di tengah persaingan yang ketat itu, Indonesia tetap berhasil merebut tempat di Nagoya. Namun yang membuat pencapaian ini semakin bernilai adalah kualitas persaingan yang akan dihadapi.
Tiket memang sudah berada di tangan, tetapi jalan menuju podium akan mempertemukan Merah Putih dengan kekuatan-kekuatan terbaik Asia. Itu juga merupakan undangan untuk masuk ke arena persaingan paling elite di benua Asia.
Menariknya, dua tiket dari sektor kyorugi yang baru saja dipastikan bukanlah milik individu atlet yang bertanding di Mongolia. Yang lolos adalah nomor atau kelas pertandingan, bukan nama atletnya.
Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBTI, Pino Indra Perdana menegaskan, peluang masih terbuka bagi siapa saja yang mampu menunjukkan performa terbaik. Pernyataan itu menunjukkan persaingan internal tim nasional masih akan berlangsung.
"Jadi nantinya siapa saja yang mewakili Indonesia, bisa saja bukan Bassam atau Raihan," ujar Pino.
PBTI akan terus melakukan pemantauan untuk menentukan atlet terbaik yang akan mewakili Indonesia pada kelas under 68 kilogram dan under 80 kilogram putra. Salah satu ajang penting dalam proses tersebut adalah Kejuaraan Satria Nusantara yang akan berlangsung di Bandung pada 3–5 Juli 2026.
Mereka tidak hanya bertanding melawan lawan di atas matras, tetapi juga melawan waktu, tekanan, dan sesama kandidat penghuni tim nasional. Setiap tendangan, setiap poin, dan setiap kemenangan akan menjadi bahan evaluasi bagi tim pelatih.
"PBTI akan mencari yang terbaik di kelas itu makanya akan diadakan monitoring," tutup Pino.
(Wikanto Arungbudoyo)