KISAH ratu bulu tangkis, Carolina Marin, menarik diulas. Dia dapat pesan menyentuh dari salah satu rival sengitnya, Pusarla V Sindhu.
Sindhu memberi apresiasi atas perjalanan luar biasa yang diukir Marin dalam dunia bulu tangkis. Meski kerap terlibat duel sengit di lapangan, Sindhu tetap menjalin persahabatan dengan Marin.
Marin dan Sindhu memang kerap terlibat persaingan sengit di lapangan. Rivalitas mereka bahkan kerap diwarnai adu mulut panas.
Salah satu momen itu terjadi Denmark Open 2023. Kala itu, Sindhu dan Marin bertemu di babak semifinal yang digelar di Jyske Bank Arena, Odense.
Dalam laga yang berlangsung sengit hingga rubber game, tensi memuncak saat Marin unggul jauh 9-2 di set penentuan. Setelah sebuah reli berakhir, sebuah shuttlecock jatuh di dekat net. Secara spontan, kedua pemain berlari bersamaan untuk mengambilnya.
Marin yang dikenal agresif berhasil menjangkau shuttlecock lebih dulu, namun aksi ini memicu kemarahan Sindhu. Pemain India tersebut merasa memiliki hak lebih dulu karena kok jatuh di area lapangannya. Adu mulut hebat pun pecah di depan net, memaksa wasit (umpire) turun tangan untuk melerai keduanya.
Saking panasnya situasi tersebut, komentator pertandingan bahkan berkelakar bahwa laga bulu tangkis ini bisa berubah menjadi pertandingan tinju. Akibat insiden rebutan mainan shuttlecock ini, wasit dengan tegas menghadiahi kartu kuning untuk Marin maupun Sindhu sebagai bentuk peringatan atas perilaku tidak sportif mereka.
Kini, rivalitas tersebut dipastikan sudah tak bisa dilihat lagi di lapangan. Sebab, Marin sudah resmi pensiun. Pengumuman itu disampaikan 26 Maret 2026.
Faktor cedera yang akhirnya memaksa Marin untuk gantung raket. Sebelumnya, ratu bulu tangkis asal Spanyol itu alami cedera lutut kanan di semifinal Olimpiade Paris 2024.
Keputusan Marin untuk pensiun buat sejumlah pemain bersedih karena merasa kehilangan sosok bintang di lapangan. Salah satu yang merasakannya adalah Sindhu. Dia pun tuliskan pesan menyentuh di Instagram.
“Beberapa rival akan menjadi bagian dari perjalananmu selamanya. Carolina adalah salah satunya. Kami pertama kali bertanding melawan satu sama lain ketika kami masih gadis berusia 15 atau 16 tahun di Maladewa, dan sejak saat itu kami terus berbagi begitu banyak pertarungan,” tulis Sindhu.
“Sejujurnya, kau juga sangat menyebalkan di lapangan. Teriakan yang terus-menerus, intensitas, trik-trik kecil, itu akan membuat siapa pun kesal. Tapi keterampilan, kecepatan, dan semangat juangmu tak tertandingi,” lanjutnya.
“Orang-orang mengingat pertandingan-pertandingan besar dan bahkan pertengkaran sengit yang kami alami di set ketiga tentang pemilihan kok. Aku akui aku benar-benar marah hari itu. Tapi beberapa bulan kemudian kami duduk berhadapan sambil minum kopi di Madrid, berbicara dan tertawa, dan pada saat itu hanya ada rasa hormat. Itulah Carolina yang akan selalu kuingat,” jelas Sindhu.
“Aku juga akan selalu bersyukur atas persahabatan luar biasa yang dibangun generasi kami. Angkatan putri kita telah menjadikan nomor tunggal putri sebagai ajang kompetisi yang sangat istimewa, dan jujur saja, saya tidak tahu apakah bulu tangkis pernah menyaksikan hal seperti ini sebelumnya atau akan pernah terjadi lagi,” sambungnya.
"Terima kasih atas setiap pertarungan, setiap pelajaran, dan yang terpenting, persahabatan kita. Saya berharap Anda menikmati masa pensiun yang bahagia, Carolina. Bulu tangkis akan merindukanmu. Dan saya juga akan merindukanmu,” tutupnya.
(Djanti Virantika)