SEJARAH emas bulu tangkis Indonesia tidak akan lengkap tanpa menyebut duet maut Tjun Tjun dan Johan Wahjudi. Jauh sebelum era modern, pasangan ini telah mengukir tinta emas sebagai pebulu tangkis Indonesia pertama yang meraih gelar juara dunia.
Pencapaian bersejarah itu tercipta pada edisi perdana Kejuaraan Dunia 1977 di Malmo, Swedia, sebuah momen yang menegaskan dominasi total tim Garuda di kancah internasional.
Terbentuknya pasangan legendaris ini sebenarnya berawal dari sebuah ketidaksengajaan yang jenius. Pada ajang Invitasi Dunia 1972 di Jakarta, Rudy Hartono yang awalnya dipasangkan dengan Tjun Tjun memilih untuk menarik diri demi fokus di sektor tunggal.
Johan Wahjudi pun ditunjuk sebagai pengganti. Tanpa disangka, duet dadakan ini langsung merajai turnamen setelah menumbangkan juara All England saat itu, Christian Hadinata/Ade Chandra.
Kemenangan mengejutkan tersebut menjadi titik awal dominasi mereka yang tak tertandingi di era 70-an. Tjun Tjun/Johan Wahjudi tercatat sebagai penguasa turnamen tertua di dunia, All England, dengan koleksi enam gelar juara.
Hebatnya, empat dari gelar tersebut diraih secara berturut-turut pada tahun 1977 hingga 1980. Ketangguhan mereka di lapangan membuat pasangan ini hampir mustahil dikalahkan oleh siapapun di masa kejayaannya, termasuk saat membantu Indonesia membawa pulang trofi Piala Thomas.
Momen paling ikonik terjadi di Malmo, Swedia pada 1977. Dalam partai final All Indonesian Final, Tjun Tjun/Johan Wahjudi berhasil mengandaskan perlawanan Christian Hadinata/Ade Chandra dengan skor telak 15-6 dan 15-4.
Kemenangan tersebut menjadikan mereka sebagai ganda putra pertama Indonesia yang menggenggam titel juara dunia. Pada edisi tersebut, Indonesia benar-benar mendominasi dengan raihan emas, perak, serta perunggu dari Iie Sumirat di sektor tunggal putra.
Namun, setiap masa kejayaan pasti menemui pengujung. Ambisi mereka untuk meraih gelar All England ketujuh kalinya kandas di tangan junior mereka, Kartono/Rudy Heryanto, pada final tahun 1981.
Setahun berselang, tepatnya pada 1982, duet ini memutuskan untuk meninggalkan Pelatnas. Perpisahan mereka diwarnai dengan kekecewaan mendalam yang sulit diungkapkan ke publik, sebuah rasa sakit yang membuat kedua legenda ini perlahan menarik diri dari hiruk-pikuk dunia bulu tangkis nasional setelah gantung raket.
(Rivan Nasri Rachman)