Kisah Carolina Marin dengan PV Sindhu, 2 Pebulu Tangkis Cantik yang Hobi Psywar

Rivan Nasri Rachman, Jurnalis
Selasa 17 Februari 2026 15:24 WIB
Tunggal putri asal Spanyol, Carolina Marin. (Foto: Okezone)
Share :

DUNIA bulu tangkis tidak hanya soal adu teknik di atas lapangan, tetapi juga tentang ketahanan mental dan adu urat saraf atau psywar. Salah satu rivalitas paling membara dalam sejarah tunggal putri modern melibatkan ratu bulu tangkis Spanyol, Carolina Marin, dan bintang India, Pusarla V. Sindhu.

Puncak ketegangan keduanya meledak dalam sebuah insiden dramatis yang nyaris berujung pada kontak fisik di ajang Denmark Open 2023.

1. Rebutan Shuttlecock yang Berbuah Kartu Kuning

Momen yang tak terlupakan itu terjadi di babak semifinal yang digelar di Jyske Bank Arena, Odense. Dalam laga yang berlangsung sengit hingga rubber game, tensi memuncak saat Marin unggul jauh 9-2 di set penentuan.

Setelah sebuah reli berakhir, sebuah shuttlecock jatuh di dekat net. Secara spontan, kedua pemain berlari bersamaan untuk mengambilnya.

Marin yang dikenal agresif berhasil menjangkau kok lebih dulu, namun aksi ini memicu kemarahan Sindhu. Pemain India tersebut merasa memiliki hak lebih dulu karena kok jatuh di area lapangannya. Adu mulut hebat pun pecah di depan net, memaksa wasit (umpire) turun tangan untuk melerai keduanya.

Pusarla V Sindhu dan Carolina Marin

Saking panasnya situasi tersebut, komentator pertandingan bahkan berkelakar bahwa laga bulu tangkis ini bisa berubah menjadi pertandingan tinju, sebuah pemandangan yang sangat langka di olahraga tepok bulu. Akibat insiden rebutan mainan shuttlecock ini, wasit dengan tegas menghadiahi kartu kuning untuk Marin maupun Sindhu sebagai bentuk peringatan atas perilaku tidak sportif mereka.

2. Dapat Julukan Monster

Meski diwarnai drama, Carolina Marin akhirnya membuktikan kelasnya dengan memenangkan pertandingan lewat skor 21-18, 19-21, dan 21-7. Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) bahkan memberikan apresiasi khusus dengan menjuluki Marin sebagai Mental Monster.

 

Julukan ini bukan tanpa alasan, sebab di usianya yang kala itu sudah 30 tahun dan setelah melewati dua cedera serius, Marin mampu kembali ke level tertinggi dan menembus final turnamen level Super 750.

"Untuk kembali ke level teratas sungguh luar biasa. Sulit untuk percaya pada diri sendiri lagi, tapi inilah saya, satu final lagi," ungkap Marin.

Pusarla V Sindhu foto bwf

Namun, di balik kegarangannya di lapangan, peraih medali emas Olimpiade Rio 2016 ini menyampaikan penyesalannya atas insiden memalukan dengan Sindhu. Marin menyadari bahwa perang mulut tersebut bukanlah contoh yang baik bagi para penonton.

Menurutnya, persaingan seharusnya terjadi dalam bentuk permainan, bukan serangan personal terhadap lawan.

"Saya tidak menyukai momen seperti ini. Kami harus berjuang untuk berlaga, tetapi tidak melawan satu sama lain," pungkas Marin.

(Rivan Nasri Rachman)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Sports lainnya