Tetapi, di bawah didikan sang ayah, Lorenzo harus melalui masa-masa sulit karena karakter ayahnya yang keras. Saat beranjak remaja, Lorenzo yang muak dengan cara ayahnya memutuskan meninggalkan rumah. Dia memilih tinggal bersama seseorang yang sangat dekat dengan manajernya, Dani Amatriain.
Dari situ, hubungan Lorenzo dan sang ayah menjadi tak baik-baik saja. Dia bahkan pernah tak berbicara dengan sang ayah hingga 5-6 tahun lamanya.
"Saya menganggap ayah saya sangat cerdas. Dia adalah salah satu pelatih pembalap terbaik. Namun masalahnya, dia terlalu banyak menuntut, sehingga pada akhirnya anak-anak tidak dapat mengimbangi kecepatannya. Jadi, anak-anak pergi karena beban beratnya, tangannya, tapi saya tidak punya pilihan lain untuk menjadi juara dunia. Saya harus tinggal bersamanya,” jelas Lorenzo.
“Saya memutuskan untuk hidup mandiri pada usia 17 tahun, tinggal bersama teman manajer pertama saya, di rumahnya. Di sanalah permasalahan dimulai,” lanjutnya.
“Hal ini tidak cocok dengan ayah saya, dan dia mulai bertengkar banyak hal dengan manajer pertama saya. Ada episode yang melibatkan pers yang sangat buruk, saya tidak berbicara dengan ayah saya selama lima atau enam tahun,” tutur eks rekan setim Marc Marquez itu.
"Ayah saya penuh kritik terhadap manajer dan pelatih saya, dia mengatakan hal-hal yang sangat buruk, pada dasarnya mereka telah mencuri anaknya dan mereka memanfaatkan saya. Jadi, saat itulah saya mulai jatuh dan punya firasat buruk,” pungask Lorenzo.
(Djanti Virantika)