KISAH sedih Jorge Lorenzo yang punya sosok ayah bengis dan berwatak keras hingga pilih minggat dari rumah akan diulas dalam artikel ini. Hal ini diungkap Lorenzo kala membahas hubungannya dengan sang ayah, Chicho Lorenzo.
Nama Jorge Lorenzo tentu saja sudah sangat tersohor di dunia MotoGP. Sosok pembalap legendaris itu sudah berhasil mengukir prestasi manis di sepanjang kariernya dengan meraih 3 gelar juara di kelas MotoGP.
Tetapi, dalam perjalanan mengukir karier apik di MotoGP itu, Jorge Lorenzo ternyata harus melalui masa-masa sulit. Utamanya berkaitan dengan ayahnya.
Jorge Lorenzo harus mengalami penderitaan sebesar di masa mudanya untuk mewujudkan mimpinya menjadi juara dunia motor. Hubungan pribadi yang selalu rumit dengan ayahnya, Chicho, sangat mempengaruhi karakternya, terutama di masa remajanya.
Jorge Lorenzo menceritakan bagaimana pola didik ayahnya yang begitu keras. Ayahnya sudah menuntut Lorenzo untuk jadi sosok perfeksionis sedari kecil.
“Ayah saya meniru metode latihan pesenam dan perenang, dia mengamati mereka di pusat olahraga, dan dia menerapkannya kepada saya ketika saya masih kecil,” ucap Lorenzo, dikutip dari Todocitcuito, Senin (29/1/2024).
"Tidak ada seorang pun yang melakukannya saat itu. Ayah saya sangat tangguh, bertangan besi, tipikal pelatih pesenam putri China dan Rusia. Saya dituntut disiplin dan perfeksionisme sejak saya masih kecil,” lanjutnya.
“Ketika saya hidup mandiri darinya pada usia 17 tahun, saya mengikuti sedikit sikap perfeksionisme, saya bahkan meningkatkannya. Saya mempelajari yang terbaik, saya membeli biografi Doohan, Schwantz. Lewat Google dan YouTube, saya belajar banyak hal dengan menonton video dan berita balap,” jelas Lorenzo.
Lebih lanjut, Lorenzo bercerita bahwa dirinya sudah harus tinggal bersama sang ayah karena orangtuanya bercerai. Dia harus ikut sang ayah sejak berusia 10 tahun, sementara sang kakak perempuannya memilih tinggal bersama ibunya.
Keputusan Lorenzo memilih tinggal bersama ayahnya ini diambil demi mewujudkan impian menjadi pembalap motor. Sebab, jika tinggal bersama ibu, Lorenzo yakin takkan bisa berkarier di dunia balap motor.
"Orangtua saya berpisah saat saya berumur 10 tahun, saya bisa memilih antara pergi bersama ibu saya atau ayah saya. Kakak perempuan saya pergi bersama ibu saya, dan saya dengan ayah saya. Itu bukan karena rasa sayang, itu karena saya tahu bahwa dengan ayah, saya bisa menjadi juara dunia. Jika dengan ibu saya, mimpi saya dengan dunia motor akan berakhir,” cerita Lorenzo.
Tetapi, di bawah didikan sang ayah, Lorenzo harus melalui masa-masa sulit karena karakter ayahnya yang keras. Saat beranjak remaja, Lorenzo yang muak dengan cara ayahnya memutuskan meninggalkan rumah. Dia memilih tinggal bersama seseorang yang sangat dekat dengan manajernya, Dani Amatriain.
Dari situ, hubungan Lorenzo dan sang ayah menjadi tak baik-baik saja. Dia bahkan pernah tak berbicara dengan sang ayah hingga 5-6 tahun lamanya.
"Saya menganggap ayah saya sangat cerdas. Dia adalah salah satu pelatih pembalap terbaik. Namun masalahnya, dia terlalu banyak menuntut, sehingga pada akhirnya anak-anak tidak dapat mengimbangi kecepatannya. Jadi, anak-anak pergi karena beban beratnya, tangannya, tapi saya tidak punya pilihan lain untuk menjadi juara dunia. Saya harus tinggal bersamanya,” jelas Lorenzo.
“Saya memutuskan untuk hidup mandiri pada usia 17 tahun, tinggal bersama teman manajer pertama saya, di rumahnya. Di sanalah permasalahan dimulai,” lanjutnya.
“Hal ini tidak cocok dengan ayah saya, dan dia mulai bertengkar banyak hal dengan manajer pertama saya. Ada episode yang melibatkan pers yang sangat buruk, saya tidak berbicara dengan ayah saya selama lima atau enam tahun,” tutur eks rekan setim Marc Marquez itu.
"Ayah saya penuh kritik terhadap manajer dan pelatih saya, dia mengatakan hal-hal yang sangat buruk, pada dasarnya mereka telah mencuri anaknya dan mereka memanfaatkan saya. Jadi, saat itulah saya mulai jatuh dan punya firasat buruk,” pungask Lorenzo.
(Djanti Virantika)