Nova/Butet juga menjadi juara di Piala Dunia Bulutangkis 2006, Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2005 dan 2007 dan Kejuaraan Asia 2006. Selain itu, mereka juga mendapat emas di SEA Games 2005 dan 2009.
Puncak penampilan pasangan emas Indonesia ini adalah pada Olimpiade Beijing 2008. Mereka yang diunggulkan di tempat pertama mendapatkan medali perak di Beijing setelah kalah dari pasangan non-unggulan asal Korea Selatan, Lee Yong-dae/Lee Hyo-jung dengan skor 11-21 dan 17-21 di partai puncak.
Kekalahan di Beijing 2008 itu membuat Nova Widianto sempat merasa tidak bisa lagi mengimbangi Butet yang terus menginginkan banyak gelar. Faktor fisik yang menurun akibat perbedaan usia mereka berdua yang jauh menjadi alasan Nova Widianto mulai kehilangan ambisi untuk juara.
Nova Widianto memutuskan untuk mundur dari pelatnas pada 2010. Saat itu dia sering mengalami kekalahan dan sempat berpikir untuk ganti pasangan. Namun, dia akhirnya memutuskan untuk mundur daripada melanjutkan kariernya di pelatnas.
Akan tetapi, Nova Widianto tidak bisa jauh-jauh dari dunia bulutangkis. Kini dia kembali lagi ke Pelatnas dan berstatus sebagai asisten pelatih. Dia menjadi asisten pelatih nomor ganda campuran di tim Merah-Putih dan menemani Praveen Jordan/Melati Daeva di Olimpiade Tokyo 2020.
(Praveen/Melati, anak asuh Nova Widianto)
Nova Widianto mengacu pada pengalamannya sebagai pemain ketika mencari bakat atau melatih anak buahnya. Menurutnya, seorang pemain yang hebat tidak hanya dilihat dari bakat dan teknis bermainnya saja, tetapi juga dilihat dari karakternya yang kuat.
Asisten pelatih asal Klaten itu juga mengatakan banyak pemain-pemain muda yang bagus saat di level junior, tetapi ketika masuk ranking 20 dunia performa mereka merosot atau mandek karena tidak bisa menahan tekanan dan harapan besar yang ada pada diri mereka.
Hal itu menurutnya harus diperbaiki dan pemain-pemain harus memulainya dengan selalu serius ketika latihan. Karena apa yang ditampilkan pada pertandingan di turnamen adalah hasil kerja keras yang biasa mereka praktekan saat latihan, sehingga jika mereka konsisten mental kuat itu akan muncul dan bisa bermain lebih bagus saat turnamen.
Tentu harapannya Nova Widianto bisa melahirkan pebulu tangkis-pebulu tangkis andal, terutama di nomor ganda campuran. Dengan begitu, Indonesia semakin unjuk gigi di dunia perbulu tangkisan internasional.
(Ramdani Bur)