PEBULUTANGKIS Viktor Axelsen, sosok yang selama bertahun-tahun menjadi momok menakutkan di sektor tunggal putra, resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia profesional pada usia 32 tahun. Keputusan berat ini diambil bukan karena hilangnya motivasi untuk bermain bulu tangkis, melainkan karena keterbatasan fisik yang tak lagi bisa diajak berkompromi.
Pasca menjalani operasi punggung pada April 2025, performa atlet asal Denmark ini tak kunjung kembali ke level elite. Dalam pernyataan resminya, Axelsen mengakui bahwa tubuhnya telah memberikan sinyal untuk berhenti.
"Hari ini bukan hari yang mudah bagi saya. Karena masalah punggung yang terus berulang, saya tidak lagi mampu bertanding dan berlatih di level tertinggi. Menerima kenyataan ini sangatlah sulit, namun saya telah mencapai titik di mana tubuh saya tidak lagi mengizinkan saya untuk melanjutkan," ujar Axelsen, dikutip dari laman resmi BWF, Rabu (15/4/2026).
Mundurnya Axelsen menandai berakhirnya era Big Alien. Ia pergi dengan status salah satu pemain tunggal putra paling berprestasi sepanjang masa.
Koleksi medalinya menjadi bukti sahih dominasinya: dua emas Olimpiade (Tokyo 2020 dan Paris 2024), satu perunggu (Rio 2016), serta dua gelar Juara Dunia (2017 dan 2022).
Kehebatan Axelsen tidak hanya diukur dari medali, tetapi juga konsistensinya yang luar biasa. Ia mencatatkan rekor lebih dari 100 minggu berturut-turut sebagai peringkat satu dunia, sebuah pencapaian yang hanya bisa dilampaui oleh legenda Malaysia, Lee Chong Wei.
Dengan postur 1,94 meter, Axelsen merevolusi permainan tunggal putra dengan menggabungkan jangkauan luar biasa, tenaga besar, dan kontrol taktik yang tajam, sekaligus mematahkan dominasi gaya bermain klasik era Lin Dan.
Selain prestasi di dalam lapangan, Axelsen dikenal sebagai sosok yang visioner. Langkahnya mempelajari bahasa Mandarin demi mendekatkan diri dengan penggemar di Asia, serta keputusannya pindah ke Dubai untuk membangun pusat latihan mandiri, telah menginspirasi banyak pemain muda seperti Lakshya Sen dan Loh Kean Yew.
Meski raket kini telah diletakkan, Axelsen memberikan isyarat bahwa ia tidak akan benar-benar meninggalkan olahraga yang telah membesarkan namanya tersebut. Ia merasa telah memberikan segalanya dan bulutangkis pun telah memberinya kehidupan yang luar biasa.
"Apa yang membuat perpisahan ini paling sulit bukanlah kompetisinya, melainkan segala hal di sekitarnya. Perjalanan, kerja keras harian, dan orang-orang di dalamnya. Saya telah mencapai semua yang pernah saya impikan, bahkan lebih," tutup Axelsen.
(Rivan Nasri Rachman)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.