SETELAH didera rentetan kegagalan di partai puncak, pebulutangkis tunggal putri asal China, Wang Zhi Yi akhirnya menemukan penebusan di turnamen paling bergengsi, All England. Kemenangan ini bukan sekadar tambahan trofi di lemari koleksinya, melainkan sebuah pernyataan mental atas dominasi yang selama ini membelenggunya.
Sebelum mentas di All England 2026 yang digelar pada 3-8 Maret 2026, Wang Zhi Yi membawa beban sejarah yang berat saat berhadapan dengan ratu bulu tangkis Korea Selatan, An Se Young. Statistik mencatat Wang telah menelan 10 kekalahan beruntun dari An, yang ironisnya semua terjadi di babak final.
Pertahanan rapat dan serangan balik mematikan dari An seolah menjadi teka-teki yang mustahil dipecahkan oleh Wang. Kondisi Wang pun sebenarnya tidak sedang di puncak kepercayaan diri.
Seminggu sebelum All England 2026, Wang baru saja menelan kekalahan pahit dari rekan juniornya, Han Qian Xi, di final German Open 2026. Namun, alih-alih terpuruk, Wang memilih filosofi yang berbeda. Ia menolak terpaku pada sisi negatif dan lebih memilih mengambil pelajaran positif untuk membangun performanya di Inggris.
Di partai final, penonton disuguhi pemandangan yang tak biasa, Wang Zhi Yi yang bermain dengan determinasi luar biasa, mengejar setiap shuttle cock seolah itu adalah poin terakhir dalam hidupnya. Ia menggunakan gaya permainan An Se Young sebagai dasar untuk meningkatkan level permainannya sendiri.
Kesabaran menjadi kunci utama saat meladeni reli-reli panjang yang menguras fisik.
“Itu pertandingan yang sangat sulit. Saya hanya fokus pada strategi saya dan bermain dengan sabar. Kami memiliki banyak reli panjang, jadi saya harus bersabar dan terus bergerak,” ujar Wang, dikutip dari laman resmi BWF, Rabu (11/3/2026).