Hendra Basir kemudian memaparkan kronologi yang menurutnya menjadi awal persoalan pada 15 Januari 2026. Pelatih panjat tebing itu mengaku menegur salah satu atlet senior yang dinilai berlatih secara arogan dan kurang menjaga etika.
"Di latihan juga ada standar batas lah, batas kewajaran itu boleh teriak atau apa. Dan itu sudah berkali-kali saya tegur, tapi ternyata tetep aja nggak berubah," ucap dia.
"Jadi, ya dari situ akhirnya kelihatan koalisi-koalisi dari mereka tuh. Kayak memang mungkin nggak nyaman dengan pola kepelatihan saya gitu. Akhirnya mereka ngadu lah langsung ke ini, ke Ibu Ketum," terangnya menambahkan.
Menurut Hendra Basir, persoalan itu sebenarnya telah selesai dua hari setelah kejadian. Ia mengaku sudah berpamitan secara lisan kepada para atlet dan memilih pulang ke rumah pada 18 Januari 2026.
"Ya pokoknya saya sudah balik itu kurang lebih sudah lama, saya 18 Januari balik ke rumah gitu kan. Karena saya merasa kecewa karena tuduhan pelecehan seksual itu tuh. Yang di-framing sama temen-temen atlet senior gitu kan. Jadi saya bilang, saya mending pulanglah daripada berjuang buat negara tapi ujung-ujungnya diginiin gitu," tuturnya.
"Nah, dalam proses saya pulang ini, ternyata di tanggal 28 Januari rame tuh. Nah, baru tanggal 13 Februari saya dapat surat itu, surat penonaktifan, yang tertandatangan di tanggal 9 Februari. Artinya bisa saja surat itu beredar dulu sebelum saya terima gitu kan," tambahnya.
Hendra Basir mempertanyakan alur waktu tersebut karena merasa tidak pernah dimintai klarifikasi. Namun, pada akhirnya Hendra Basir memilih bersikap legawa untuk menyelesaikan persoalan ini.
"Jadi buat saya ini sudah pembunuhan karakter. Karena tidak ada proses tabayyun dulu ke saya. Apakah benar delapan orang ini, lima putra, tiga putri ini begini ceritanya gitu kan. Itu kan buat saya sudah nggak fair gitu. Tapi ya saya terima, nggak apa-apa. Toh juga dengan ini pun saya juga udah cukuplah di tim nasional gitu," jelas Hendra Basir.
Ia menegaskan pendekatan yang dilakukan sejak 2012 merupakan bagian dari metode kepelatihannya di Pelatnas FPTI. Hendra Basir siap menerima konsekuensi jika pola kerasnya dinilai sebagai kekerasan fisik, namun menolak tuduhan pelecehan seksual.
"Kalau itu dijadikan sebuah isu utama, saya terima. Saya marah di situ. Ini ada konteks berlatihnya lah. Intinya tidak tidak jauh dari situ," ucapnya.
"Tetapi isu tentang pelecehan itu, itu yang bikin saya aduh, gila gua sebegitunya untuk negara, keluarga gua tinggal dan segala macam, tapi adek-adek gue berkoalisi, atlet-atlet senior berkoalisi untuk menjelekkan dengan isu begitu, itu udah soal harga diri ini," tukasnya.
Sementara itu, PP FPTI dikabarkan telah membentuk tim pencari fakta untuk menyelesaikan kasus ini.Di saat bersamaan, Hendra Basir masih berstatus dinonaktifkan sementara dari jabatan pelatih tim panjat tebing Indonesia.
(Ramdani Bur)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.