SIAPA sangka, salah satu srikandi terbaik bulu tangkis Indonesia di sektor ganda campuran, Melati Daeva Oktavianti, awalnya memulai karier dengan rasa enggan. Atlet yang dikenal memiliki paras menawan dan senyum ikonik ini ternyata sempat membenci olahraga tepok bulu sebelum akhirnya menjadi idola pencinta bulu tangkis dunia.
Jalan hidup Melati berubah berkat peran sang ayah yang tak henti mengenalkannya pada raket dan teknik-teknik dasar. Dorongan tersebut perlahan mengubah kebencian menjadi gairah, hingga akhirnya ia memantapkan hati untuk serius di dunia atlet dan menembus seleksi ketat klub legendaris, PB Djarum, pada usia 14 tahun.
Nama Melati mencapai puncak popularitas dan prestasi saat dipasangkan dengan Praveen Jordan. Pasangan ini menjadi momok menakutkan di sektor ganda campuran dunia. Sinergi keduanya di lapangan tidak hanya memikat lewat teknik, tetapi juga lewat rentetan gelar bergengsi yang mereka raih.
Puncak kejayaan mereka terjadi pada rentang waktu 2019 hingga 2020. Pasangan yang dijuluki "The Honey Couple" ini sukses memborong gelar juara di Denmark Open 2019 dan French Open 2019 secara beruntun.
Puncaknya, Praveen/Melati berhasil menorehkan tinta emas dengan menjuarai All England Open 2020, sebuah prestasi yang mengukuhkan posisi mereka sebagai ganda campuran nomor satu di Indonesia dan bertengger di peringkat empat dunia.
Setiap atlet pasti melewati masa pasang surut. Setelah badai cedera menimpa Praveen Jordan, performa pasangan ini sempat mengalami penurunan signifikan.
Alih-alih menyerah pada keadaan, Melati memilih untuk membuka lembaran baru dengan berpisah dari tandem lamanya dan memulai perjalanan bersama Bobby Setyabudi, mantan pemain tunggal putra.
Keputusan tersebut terbukti tepat. Memasuki tahun 2025, Melati menunjukkan bahwa kualitasnya belum pudar.
Bersama Bobby, Melati sukses meraih rentetan gelar di sirkuit International Challenge, mulai dari Singapura, Sri Lanka, hingga menyapu bersih dua gelar di Indonesia International Challenge. Transformasi ini membawa mereka menembus peringkat 33 dunia, membuktikan bahwa dedikasi yang tumbuh dari paksaan sang ayah kini telah menjadi api semangat yang tak kunjung padam untuk mengharumkan nama Nusantara.
(Rivan Nasri Rachman)