JAKARTA - Para pebulu tangkis Indonesia dengan Generasi Z (Gen Z) sukses membuat gebrakan besar di Istora Senayan. Para pemain Tanah Air berdarah muda ini mampu mencetak prestasi apik kala mentas di Daihatsu Indonesia Masters 2026.
Satu gelar juara berhasil diamankan tunggal putra, Alwi Farhan yang merupakan pemain kelahiran 12 Mei 2005. Pada laga puncak, pemain berusia 20 tahun itu menang telak atas wakil Thailand, Panitchaphon Teeraratsakul dengan skor 21-5, 21-6.
Kesusksan Alwi pun nyaris diikuti ganda putra, Raymond Indra (21 tahun)/Nikolaus Joaquin (20 tahun). Namun, mereka harus puas sebagai runner-up usai di partai puncak takluk dari pasangan asal Malaysia, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin, dengan skor 19-21, 13-21.
Meski begitu, para Gen Z ini terbilang sukses membuat gebrakan di Istora Senayan. Tak hanya Alwi dan Raymond/Joaquin, di babak semifinal tercatat ada sejumlah perwakikan Gen Z yang sukses membuat kejutan di Daihatsu Indonesia Masters 2026.
Pada sektor ganda putri ada duet muda Rachel Allessya Rose (21 tahun)/Febi Setianingrum (21 tahun). Lalu di ganda campuran ada Jafar Hidayatullah (23 tahun)/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu (20 tahun).
Kesuksesan ini seakan memberi tanda bahwa para pemain Gen Z Indonesia sudah mulai menunjukkan taringnya. Seperti slogan yang diserukan Alwi "Gen Z Siap Unjuk Gigi" mereka sukses membuat Istora kembali bergairah karena aksi muda-mudi ini dikenal berani dan bersemangat.
"Kami sangat muda, jadi kami harus seperti selalu menjaga semangat itu. Ya, jadi kami bermain dengan kecepatan dan kekuatan, karena begitulah cara Gen Z bermain," kata Joaquin saat ditanya Okezone di Istora Senayan, Jakarta.
Menariknya, para pemain yang eksis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 rata-rata merupakan jebolan BWF World Junior Championships era 2022-2023. Sebut saja seperti Alwi, Raymond, Joaquin, Rachel, dan Felisha.
Karena itu, tak mengherankan jika mereka seperti memiliki ikatan batin untuk berjuang bersama. Bahkan di balik kesuksesan para pemain Gen Z di Daihatsu Indonesia Masters 2026, ternyata ada sebuah pesan rahasia yang mereka jalankan bersama.
Joaquin/Raymond pun mengungkapkan ada pesan semangat satu sama lain yang diawali oleh Alwi. Pasangan yang mengalahkan dua seniornya di babak perempatfinal (Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri) dan semifinal (Sabar Karyaman Gutama/Moh. Reza Pahlevi Sifahani) Daihatsu Indonesia Masters 2026 itu, ikut tersulut oleh semangat positif Alwi.
"Sebelum main sempet ketemu Alwi, dia support. Dia bilang 'ayo bisa bareng bareng juara di Daihatsu Indonesia Masters 2026'," ungkap Raymond.
"Kita semenjak di Malaysia kemarin keluar bareng Alwi selalu bertiga, trus misalkan Alwi menang nih, saya pribadi juga ikut 'gue harus menang nih, ini waktunya Gen Z'," jelas Joaquin.
Semangat membara dari Alwi ke Raymond/Joaquin kemudian ditularkan kepada pemain Gen Z lainnya. Salah satunya adalah ganda putri yang juga melaju hingga semifinal Daihatsu Indonesia Masters 2026, Rachel/Febi.
"Tadi sebelum main ketemu sama Joaquin, dia bilang 'ayo nih saatnya Gen Z'," tutur Febi.
"Kami memang sering ngobrol. Tadi sebelum main saya sempat bicara ke Febi 'ayo Gen Z Gen Z bisa'," kata Joaquin yang membenarkan pernyataan Febi.
Taring para pemain Gen Z memang tidak bisa diremehkan. Mereka memiliki mental dan ambisi besar untuk bisa menaklukkan dunia. Meski Gen Z kerap dianggap negatif, tapi para pebulu tangkis muda ini sudah terbiasa dengan gemblengan keras.
"Mungkin saya pribadi dan teman-teman yang ada di Pelatnas yang seumuran saya, pastinya ingin berada di level atas secepatnya. Memang tidak bisa dipungkiri butuh pengalaman, butuh jam terbang, butuh merasakan atmosphere yang berbeda-beda, bertemu pemain dari segala ranking, tidak bisa menyepelekan, dan bertemu dengan berbagai kondisi lapangan," terang Alwi.
"Kita punya jiwa jiwa muda, nothing to lose-nya ada, mau lawan siapapun (tidak takut). Trus juga ada nafsu-nafsunya, ya semangat Gen Z. Kita bukan berarti junior harus mengalah sama senior, kita juga mau bersaing menempel senior-senior kita. Kita sudah membiasakan untuk latihannya tidak manja-manja," kata Rachel.
Dengan pencapaian ini, para pebulu tangkis muda Indonesia ini tidak ingin berhenti. Gen Z ingin membuktikan bahwa mereka bisa menjadi harapan cerah bagi masa depan bulu tangkis Indonesia.
"Kita di umur 20, 21, 22 tahun bisa mulai menunjukkan kalau kita bisa, ya bagus. Semoga aja dua atau tiga tahun ke depan kita sudah matang dan sudah siap untuk berangkat ke turnamen minimal semifinal, juara, juara, juara. Namanya mau naik level pasti enggak gampang, mau di mana pun, profesi apa pun mau naik level pasti kesulitannya berat, tantangannya luar biasa," tukas Felisha.
(Rivan Nasri Rachman)