KISAH Greysia Polii kembali menarik untuk diulas. Dia merupakan atlet kebangaan Indonesia yang meraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020.
Keberhasilannya itu memang tidak lepas dari perjuangannya selama ini. Dia berlatih hingga menunjukkan hasil terbaik.
Greysia sudah mencintai dunia bulu tangkis sejak masih belia, tepatnya usia delapan tahun. Dia pun mengejar mimpinya dengan merantau ke Jakarta.
"Gue pengen main bulu tangkis, nyokap juga sangat dukung banget. Jadi, delapan tahun udah ke Jakarta untuk berlatih bulu tangkis dan sekolah," kata Greysia Polii di kanal YouTube Boy William yang diunggah dua tahun lalu dan dikutip pada Rabu (6/9/2023).
Mengetahui sang anak punya keinginan besar, sang ibu bernama Evie Pakasi mencoba buka jasa jahit untuk menyekolahkan anaknya itu.
"Nyokap gua sampai harus jahit baju buat bayar SPP sekolah," katanya.
Waktu terus berlalu, dia pun semakin memperlihatkan minat dan bakatnya pada dunia bulu tangkis ini. Pada usia 13 tahun, mantan duet Apriyani Rahayu ini memulai karier profesional di cabang olahraga bulu tangkis.
Meski sempat mendapat keraguan dari banyak pihak termasuk keluarga. Namun, Greysia pun tidak menyerah dan memutuskan untuk berjuang membawa harum ganda putri Indonesia.
“Keluarga saya sempat meragukan, tapi saya tetap yakin dan saya tetap jalan dengan panggilan itu," kata Greysia, dikutip dari rilis resmi PBSI.
Pada saat itu, Greysia bertanding untuk klub Jaya Raya Jakarta. Retno Kustijah yang merupakan pelatih klub lokal tersebut pada saat itu, melihat bakat atlet kelahiran 11 Agustus 1987 itu sebagai pemain ganda.
Dia kemudian menanamkan tekad tersebut ketika masuk ke pelatnas PBSI. Menurutnya, selama di Cipayung tidak ada pelatih dan pengurus yang meragukan bahwa ganda putri Indonesia bisa berprestasi di kompetisi internasional. Hal itulah yang membuatnya termotivasi dalam meraih emas Olimpiade pada nomor ganda putri.
"Ketika banyak orang meragukan, saya tahu PBSI ini rumah saya dan saya sudah lama tinggal di sini, pelatih dan pengurus hingga hari ini tidak pernah meragukan dan meyakinkan bahwa ganda putri bisa berprestasi di dunia dan bisa mengambil sejarah di Olimpiade,” kata Greysia.
Dia akhirnya keluar dari tunggal ke ganda hingga menjadi anggota tim nasional Indonesia pada 2003. Kala itu, dia dipasangkan bersama Heni Budiman.