Share

Match Fixing Terjadi di IBL 2021, 5 Pemain Pacific Caesar Surabaya dan 1 dari Bali United Basketball Terlibat

Quadiliba Al-Farabi, Jurnalis · Rabu 29 Desember 2021 17:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 29 36 2524481 match-fixing-terjadi-di-ibl-2021-5-pemain-pacific-caesar-surabaya-dan-1-dari-bali-united-basketball-terlibat-i2oN3koQgz.jpg Sebanyak lima pemain Pacific Caesar Surabaya dan satu pemain Bali United Basketball terjerat kasus pengaturan skor (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Direktur Utama Liga Basket Indonesia (IBL), Junas Miradiarsyah, memberi kabar mengejutkan pada Rabu (29/12/2021). Kabar mengejutkan itu adalah lima pemain Pacific Caesar Surabaya dan satu pemain Bali United Basketball di IBL 2021 terlibat pengaturan skor (match fixing).

“Ada kasus yang terjadi di (liga) 2021 kemarin mengenai suatu hal yang patut tidak dicontoh untuk profesional manapun yang dilakukan oleh beberapa pemain melakukan match fixing,” ucap Junas dalam konferensi pers virtual, Rabu (29/12/2021).

Terjadi pengaturan skor di IBL 2021 (Foto: Istimewa)

Adapun lima pemain Pacific Caesar Surabaya yang terlibat di antaranya Aga Siedartha, Arisanda, Gabriel Senduk, Yoseph Wijaya, dan Aziz Wardhana. Sementara itu, satu pemain dari Bali United Basketball adalah Yerikho Tuasela.

Junas menegaskan, bahwa keterlibatan para pemain ini tidak ada sangkut pautnya dengan klub. Bahkan, pihak klub dan manajemen sendiri mendukung agar pihak berwenang segera menindak pemain-pemain yang bersangkutan. Kasus ini terjadi pada pertandingan-pertandingan awal di reguler sistem.

BACA JUGA: Perbasi Sambut Baik Artis Ramaikan Dunia Basket Indonesia

“Jadi, bukan di pertandingan-pertandingan penentu, bukan juga di antara kedua tim bertemu. Jadi, bukan mengatur permainan tim A dan tim B, tapi secara individu,” lanjut Junas.

Ketua Bidang Etik dan Hukum PP Perbasi, Charles Bronson Siringoringo, memberi penjelasan lebih detail. Ia menyatakan, bahwa para pelaku ini mendapat pesanan dari bandar judi online yang memasang klub tertentu.

“Si pemasang di judi online ada seseorang, yakni memasang klub tertentu, misalnya Pasific kalah sekian bola, dia harus memenuhi target tertentu. Kalau dia memenuhi target itu, si seseorang ini menang dan mendapat uang dari si bandar,” ucap Charles.

Kemudian, sanksi telah diberikan kepada para pelaku baik, dari IBL selaku operator maupun Perbasi selaku federasi. Intinya, kedua organisasi itu melarang yang bersangkutan aktif di dunia basket Indonesia dalam jangka waktu tertentu.

“Tindak lanjutnya sudah membentuk tim dan sudah kita tentukan hukumannya. Sesuai aturan IBL semua yang terlibat akan diterapkan pasal yang sama, yaitu larangan bermain seumur hidup dan denda 100 juta rupiah dan tidak ada toleransi,” ucap Junas.

“Jadi yang kita putuskan mereka tidak boleh bermain di ruang lingkup perbasketan di Indonesia baik sebagai pengurus atau apapun itu. Kita memutuskan untuk kepalanya yang mr. A itu 4 tahun, dan yang paling kecil untuk keterlibatan membantu yaitu satu tahun,” lanjut Charles yang mewakili Perbasi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini